Malang (beritajatim.com) – Fakta mengkhawatirkan terungkap dari Kota Malang. Air hujan yang selama ini dianggap murni, ternyata telah terkontaminasi partikel mikroplastik.
Temuan ini diungkap oleh lembaga peneliti Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) melalui penelitian berbasis citizen science yang melibatkan langsung partisipasi warga Malang pada 7-9 November 2025. Penelitian ini menemukan fakta bahwa mikroplastik, serpihan plastik berukuran di bawah 5 milimeter, telah mencemari air hujan di lima titik lokasi di Malang Raya.
Penelitian ini diawali dengan ajakan terbuka Ecoton melalui media sosial. Warga Malang diminta mengumpulkan satu liter air hujan di sekitar rumah mereka menggunakan wadah non-plastik, seperti kaleng atau panci stainless steel.
“Kami mengajak warga mengumpulkan air hujan di ketinggian di atas 1,5 meter dan bebas halangan. Responnya positif, dengan lima warga dari empat kecamatan berpartisipasi,” ungkap Alaika Rahmatullah, Peneliti Ecoton, kepada beritajatim.com , Selasa (11/11/2025).
Sampel air hujan tersebut kemudian dianalisis di laboratorium Ecoton. Hasilnya, kelima sampel yang diambil dari Sudimoro, Gadang, Merjosari, Blimbing (Kota Malang), dan Singosari (Kabupaten Malang) terbukti positif mengandung mikroplastik.
Temuan paling mengkhawatirkan berasal dari wilayah Blimbing, Kota Malang, dengan konsentrasi tertinggi mencapai 98 partikel mikroplastik per liter air hujan.
Dari mana partikel plastik ini berasal hingga bisa turun bersama hujan? Penelitian Ecoton mengidentifikasi dua sumber utama: emisi pembakaran sampah plastik dan fragmentasi sampah plastik yang menumpuk.
Temuan Ecoton (Tabel 1) menunjukkan bahwa pembakaran sampah plastik terbuka menjadi kontributor dominan, yakni sebesar 55%.
Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, menjelaskan bahwa partikel mikroskopis plastik terlepas ke udara bersama asap saat warga membakar sampah.
“Partikel tersebut terbawa angin, mengalami pengembunan di atmosfer, lalu turun kembali ke bumi bersama butiran hujan. Mekanisme ini dikenal sebagai wet deposition,” ujar Rafika.
Selain pembakaran sampah, sektor transportasi (dari abrasi ban dan aspal) menyumbang 33,3%, dan aktivitas rumah tangga seperti laundry (tekstil domestik) menyumbang 27,7%. Jenis mikroplastik yang paling dominan ditemukan adalah fiber (serat halus) yang mencapai lebih dari 80%, disusul film (lapisan tipis) dan fragmen (pecahan keras).

Temuan ini bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Mikroplastik berukuran sangat kecil ini dapat terhirup langsung atau masuk ke tubuh melalui air minum yang bersumber dari air tanah yang tercemar.
Studi internasional menunjukkan partikel mikroplastik mampu mengikat zat berbahaya seperti logam berat (timbal, kadmium) dan kimia aditif seperti Bisphenol-A (BPA). “Ini menjadi fenomena siklus plastik atmosferik. Partikel yang turun bersama hujan membuka jalur paparan baru bagi manusia,” tambah Alaika Rahmatullah.
Paparan zat-zat toksik ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, di antaranya peradangan saluran pernapasan dan gangguan paru-paru. Stres oksidatif dan kerusakan sel. Gangguan hormon (endokrin disruptor) yang memengaruhi reproduksi dan metabolisme. Kemudian, potensi karsinogenik (pemicu kanker) akibat akumulasi bahan kimia.
Atas temuan ini, ECOTON mendesak Pemerintah Daerah Kota Malang untuk mengambil langkah tegas. Rekomendasi utama adalah melarang total pembakaran sampah plastik terbuka di permukiman, yang terbukti menjadi sumber utama polusi ini.
ECOTON juga menyerukan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan perlunya integrasi isu mikroplastik ini ke dalam kebijakan kesehatan masyarakat, terutama untuk meneliti hubungannya dengan peningkatan kasus asma atau bronkitis di wilayah padat pembakaran sampah. (dan/but)






