Makkah (beritajatim.com) – Fasilitas pemotongan hewan resmi Kerajaan Arab Saudi, Adahi, mampu melakukan penyembelihan lebih dari 400.000 ekor hewan dam per hari untuk melayani jemaah haji dari berbagai belahan dunia pada musim haji 1447 H / 2026 M.
Kapasitas masif ini disiapkan guna memastikan seluruh kewajiban jemaah haji terkait pembayaran dam (denda) maupun kurban dapat terfasilitasi dengan standar syariat dan kesehatan yang ketat.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI melaporkan dari Arab Saudi, operasional di fasilitas Adahi saat ini melibatkan sekitar 17.000 pegawai. Meski mampu menyembelih hingga 400.000 ekor per hari, fasilitas ini sebenarnya memiliki ambisi kapasitas yang lebih besar.
General Manager Hady & Adahi Program, Seraj Mohammed Alfelali, mengungkapkan bahwa secara teknis Adahi sanggup menangani hingga 1,5 juta ekor hewan. Namun, saat ini daya tampung penyimpanan atau freezer yang tersedia baru mencapai kisaran 1,2 juta ekor.
“Per hari lebih dari 400.000. Ya, lebih dari 300.000,” ujar Seraj saat menerima kunjungan tim MCH Indonesia di Makkah, Senin (11/5/2026). Ia menegaskan bahwa seluruh proses, mulai dari penyembelihan di lantai dasar hingga pengulitan dan pemisahan daging di lantai dua, dilakukan menggunakan peralatan modern yang terintegrasi untuk menjaga higienitas.
Daging hasil penyembelihan di Adahi tidak hanya berhenti di Arab Saudi. Seraj menjelaskan bahwa daging domba yang telah dikemas akan dikirim ke berbagai negara yang membutuhkan bantuan pangan berdasarkan delapan kriteria syariat Islam.
Negara-negara yang diprioritaskan adalah wilayah yang tengah menghadapi kondisi darurat seperti bencana alam, wabah penyakit, hingga konflik bersenjata.
“Sebenarnya kami mendistribusikan porsi daging ke negara-negara yang membutuhkan berdasarkan kriteria tertentu, delapan kriteria. Jadi ini tidak konstan, bisa berubah setiap tahun berdasarkan situasi di seluruh dunia,” jelas Seraj.
Dalam delapan tahun terakhir, pola distribusi ini terus bergeser mengikuti dinamika global, termasuk dampak perang dan virus yang memengaruhi ketahanan pangan di berbagai belahan dunia. Hal ini bertujuan agar manfaat dari hewan dam yang dibayarkan jemaah haji dapat dirasakan oleh umat Islam yang paling membutuhkan bantuan.
Kendala Regulasi Impor di Indonesia
Meski jemaah haji Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar dalam pembayaran dam, daging hasil sembelihan dari Adahi dipastikan tidak didistribusikan ke tanah air.
Seraj mengklarifikasi bahwa hal ini bukan disebabkan oleh ketidaksediaan stok dari pihak Arab Saudi, melainkan kendala aturan lokal di Indonesia.
“Karena otoritas Indonesia tidak mengizinkan daging yang disembelih di luar Indonesia untuk diimpor. Jadi ini karena masalah regulasi, bukan alasan lain. Itu regulasi lokal, bukan dari pihak kami,” tutur Seraj.
Hingga saat ini, regulasi domestik Indonesia terkait protokol impor daging masih menjadi faktor utama daging tersebut tidak bisa dikirim ke masyarakat di Indonesia.
Jemaah haji asal Jawa Timur dan daerah lainnya yang melakukan pembayaran dam melalui saluran resmi Kerajaan Arab Saudi diharapkan memahami bahwa daging sembelihan mereka akan dialokasikan untuk misi kemanusiaan internasional di wilayah-wilayah terdampak krisis dunia. [ian/MCH]






