Gresik (beritajatim.com) – Kabupaten Gresik masih seksi sebagai tempat investor untuk menanamkan modalnya. Tahun 2024, diproyeksi ada investasi besar senilai Rp 17 triliun yang berasal dari sektor pertambangan.
Dinas Penanaman Modal Peyalanan Terpaduk Satu Pintu (DPMPTSP) Gresik mencatat saat ini investasi yang masuk ke kota pudak didominasi Penanaman Modal Asing (PMA) dari sektor pertambangan. Disusul kemudian dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) paling banyak berasal dari sektor properti.
Tahun 2024 ini, DPMPTSP memproyeksikan terdapat industri besar yang masuk ke Gresik dengan nilai mencapai Rp 17,19 triliun. Investasi tersebut berasal dari hilirisasi timah sebesar Rp 4,17 triliun dan industri alat pertanian sebesar Rp 800 miliar. Sisanya proyeksi pada industri yang lain.
“Ini hilirisasi timah tahun kemarin sudah mulai kajian. Kami harap tahun 2024 sudah mulai,” ujar Kepala DPMPTSP Reza Pahlevi, Jumat (5/01/2024).
Seperti diketahui, Kabupaten Gresik telah dipilih menjadi tempat hilirisasi pengolahan timah untuk mendukung proyek Ibu Kota Nusantara (IKN), tenaga surya, hingga ekspor. Apabila ini terealisasi, secara tidak langsung akan menumbuhkan perekonomian di Gresik.
Terkait dengan itu lanjut Reza, iklim investasi yang kondusif membuat para investor berbondong-bondong datang ke Gresik. Apalagi ditambah bonus demografi yang sangat mendukung industri.
“Tingginya investasi ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi Gresik. Selain itu juga akan berdampak pada masyarakat dari sektor UMKM maupun tenaga kerja,” ungkapnya.
Selama ini 96 persen tin ingot, atau timah batangan diekspor ke luar negeri. Hanya 4 persen untuk kebutuhan dalam negeri. Dalam kajian yang dilakukan pemerintah pusat itu, bahan baku tin ingot mencapai 70-80 ribu ton per tahun. Sedangkan penyerapan tin ingot melalui hilirisasi ini bisa 25 ribu ton ingot.
Dalam industri hilir timah akan memiliki tiga kompenen. Diantaranya tin solder, tin ribbon, dan tin chemical. Dipilihnya Gresik untuk industri hilir timah lantaran dekat dengan offtaker hingga kesiapan infrastruktur pendukung.
“Keberadaan KEK di JIIPE mendorong banyak investor berbondong-bondong menanamkan modalnya,” tandas Reza. (dny/ian)






