Surabaya (beritajatim.com) – Akademi Buah Nusantara (ABN) hadir di Jawa Timur dengan visi mencetak tenaga ahli dalam sektor pertanian buah tropis. Sebagai lembaga vokasi pertama di Indonesia yang fokus pada buah-buahan tropis dan subtropis, ABN bertujuan untuk mengisi kekosongan tenaga ahli di bidang budidaya, perawatan, panen, hingga ekspor-impor buah.
Dengan kolaborasi bersama universitas terkemuka seperti UPN Veteran Jatim dan Universitas Airlangga, ABN menawarkan program pendidikan vokasi yang mengedepankan 70% praktik untuk mempersiapkan generasi muda yang kompeten dan siap berkontribusi dalam industri pertanian buah Indonesia yang semakin berkembang.
Tentu saja, kehadiran ABN di Jombang, Jawa Timur, disambut hangat oleh Dr. Puguh Wiji Pamungkas, anggota DPRD Jawa Timur. Dalam pertemuan yang berlangsung pada Kamis, 16 Oktober 2025, Puguh menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ABN yang sangat relevan dengan program Pemprov Jatim, Gerbang Nusantara Baru.
Menurutnya, upaya ini merupakan langkah positif untuk menjadikan Jawa Timur sebagai pusat produksi buah-buahan yang dapat bersaing di tingkat nasional dan global.
“Semangat ini menjadi tindakan gayung bersambut untuk menjadikan Jatim sebagai pusat produsen buah-buahan yang bisa bersaing di kancah nasional ataupun global. Kami sangat mengapresiasi,” ujar Puguh dengan penuh semangat.
Potensi Buah Nusantara yang Belum Optimal
Indonesia, sebagai salah satu negara penghasil buah terbesar di dunia, memiliki lebih dari 1.400 jenis buah yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Namun, Puguh menyebutkan bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk menghasilkan keunggulan yang dapat menempatkan buah Indonesia di pasar internasional.
Prof. Dr. Reza Tirtawinata, pimpinan ABN, menegaskan bahwa lembaga vokasi yang mereka dirikan ini bertujuan untuk mengisi kekosongan dalam sektor pertanian buah tropis dan subtropis. “ABN adalah lembaga vokasi pertama di Indonesia yang fokus pada buah-buahan tropis dan subtropis. Kami hadir untuk mencetak tenaga ahli yang siap bekerja, dari hulu ke hilir,” ujarnya.
ABN menggandeng beberapa universitas ternama, seperti UPN Veteran Jatim dan Universitas Airlangga, dalam menyusun kurikulum untuk program D3 vokasi buah. Program ini direncanakan akan dimulai pada tahun akademik 2026/2027, dengan target pertama sebanyak 100 mahasiswa yang akan menerima beasiswa dari daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Reza juga menyoroti bahwa Indonesia memiliki kekayaan plasma nutfah terbesar kedua setelah Brazil, dengan hampir 1.500 jenis buah. Namun, pengelolaan buah di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
Jawa Timur, yang merupakan penghasil durian, mangga, dan pisang terbesar di Indonesia, masih menghadapi masalah kurangnya tenaga ahli dalam mengelola kebun buah. “Banyak kebun yang tidak terawat dengan baik karena minimnya tenaga ahli. ABN hadir untuk mengatasi masalah ini dengan mencetak tenaga madya bersertifikat yang siap pakai,” jelas Reza.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Akademi Buah Nusantara, Yusron Aminulloh, mengungkapkan bahwa skema pembelajaran di ABN akan lebih banyak mengutamakan praktik dibanding teori. “Skema pembelajaran kami adalah 70% praktik, 30% teori. Tahun pertama mahasiswa akan mempelajari dasar-dasar hortikultura, sementara di tahun kedua dan ketiga mereka bisa memilih spesialisasi seperti durian, manggis, alpukat, jeruk, dan mangga,” ungkap Yusron.
Yusron menambahkan bahwa ABN juga memberikan pelatihan dalam manajemen kebun, ekspor, serta pemasaran buah. Lulusan ABN akan tetap mendapatkan pendampingan melalui sistem pelaporan digital 24 jam, yang memastikan mereka tetap terhubung dan mendapatkan dukungan setelah lulus.
Mencetak Petani Muda yang Berkualitas
Dengan fokus pada pengembangan karakter, Yusron menekankan bahwa ABN ingin mencetak petani muda yang tidak hanya terampil dalam pertanian, tetapi juga memiliki jiwa wirausaha yang modern dan paham teknologi.
“Kami ingin melahirkan ahli buah Nusantara yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga memahami pentingnya ekspor, marketing, dan akuntansi dalam bisnis pertanian,” pungkas Yusron.
Program beasiswa yang ditawarkan ABN akan membuka peluang bagi mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk mengakses pendidikan berkualitas di bidang pertanian buah, dengan harapan dapat mengurangi ketertinggalan Indonesia dalam sektor ini di kancah internasional. [suf]






