Surabaya (beritajatim.com) – Pelaku usaha dituntut memiliki kemampuan adaptasi tinggi dalam merespons cepatnya perubahan regulasi pemerintah maupun dinamika pasar. Perubahan kebijakan publik ini jangan dipandang sebagai beban, melainkan celah untuk menciptakan potensi ekonomi.
Ketua Airlangga Business Community (ABC) Bidang Jejaring dan Pengembangan Bisnis, Bustomi, menjelaskan kelenturan strategi menjadi penentu agar perusahaan tidak tenggelam saat iklim usaha bergeser.
“Pengusaha yang adaptif tidak hanya bertanya bagaimana bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga bagaimana mengubah perubahan menjadi peluang,” kata Bustomi, Selasa (6/10/2026).
Pria yang juga menjabat Direktur Institute for Strategic and Political Studies (INTRAPOLS) ini meminta pengusaha jeli membaca regulasi. Aturan baru selalu membawa petunjuk terkait sektor prioritas dan tren teknologi kekinian.
“Kita tidak mungkin meminta dunia berhenti berubah supaya bisnis kita nyaman. Bisnislah yang harus memiliki kemampuan untuk terus bergerak,” ujarnya.
Contoh nyata adalah digitalisasi perizinan berbasis risiko serta penerapan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025. Pergeseran sistem ini menuntut penyesuaian administrasi sekaligus membuka kemudahan akses pasar yang lebih lebar.
“Jangan sampai bisnisnya sudah naik kelas, tetapi administrasinya masih menggambarkan wujud perusahaan lima atau sepuluh tahun yang lalu,” tegas Direktur PT Cakrawarta Megah Mediatama tersebut.
Selain ketajaman membaca regulasi, pengusaha amat membutuhkan ekosistem yang solid. Komunitas bisnis berperan menjembatani pertukaran informasi, teknologi, operasional pemasaran, hingga akses pembiayaan antarpelaku usaha.
“Jejaring bisnis bukan sebatas tentang siapa yang kita kenal, melainkan berfokus pada nilai apa yang bisa kita ciptakan bersama,” papar Bustomi.
Kolaborasi dalam wadah perkumpulan membuat pengusaha yang terhambat pada sektor distribusi bisa bertemu pemilik jaringan pasar. Pertemuan silang ini langsung memicu transaksi ekonomi dan memperkuat kapasitas internal masing-masing perusahaan.
“Pengusaha yang bertahan bukan hanya mereka yang mampu menghadapi dinamika, tetapi mereka yang mampu membaca arah tren lebih awal,” pungkasnya. [ipl/aje]






