Surabaya (beritajatim.com)–Kota Surabaya dan sekitarnya sudah memasuki awal musim hujan dan diprediksi puncak musim hujan akan terjadi sekitar Februari dan Maret 2019 mendatang.
Untuk mencegah terjadinya banjir atau luapan sungai-sungai di Surabaya dan sekitarnya, Perum Tirta (PJT) I berupaya mengalihkan debit air sungai ke beberapa sungai sehingga perkotaan aman dari banjir.
\\\”Hujan di beberapa tempat memang sudah deras namun ini masih awal musim hujan. Nanti Februari baru akan tinggi,\\\” jelas Didik Ardianto, Kepala Divisi Jasa ASA II PJT I, didampingi Kepala Departemen Humas dan Informasi Publik PJT I, Inni Dian Rohani, saat acara “Ngopi Bareng Perum Jasa Tirta I” di Surabaya, Kamis (20/12/2018).
Untuk antisipasi itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan berbagai, pihak mulai dari relawan hingga Pemkot Surabaya. Saat ini tim relawan sudah melakukan pemantauan setiap hari terhadap debit air.
\\\”Yang cukup dikhawatirkan akan meluap salah satunya Sungai Brantas. Jika debit air tinggi maka aliran Sungai Brantas akan kami pecah menjadi dua, yakni sebagian airnya dialihkan ke Sungai Porong dan sebagian lagi ke Kali Surabaya,\\\” aku Didik.
Tak hanya ancaman banjir saja yang menjadi fokus perhatian PJT 1 saat debit air tinggi di sungai, maka pabrik pun sengaja membuang limbah cair mereka ke sungai. Dan keruhnya sungai saat musim hujan karena membawa sedimentasi tanah, membuat limbah yang masuk ke sungai tidak terlihat secara kasatmata.
\\\”Namun kami tidak kehilangan akal mendeteksinya. Saat ini kami punya puluhan relawan yang melakukan uji kualitas sungai setiap hari. Sehingga akan terlihat dengan jelas jika sungai itu tercemar,\\\” ungkapnya.
Tantangan pencemaran akibat pembuangan limbah ini di Surabaya cukup tinggi. Apalagi sepanjang bantaran Sungai Surabaya, PJT 1 mencatat ada 30 pabrik yang punya pipa pembuangan limbah cair di sungai. Dan hasil laporannya akan dilaporkan ke Pemkot Surabaya untuk ditindaklanjuti oleh Walikota Surabaya.[rea/air]





