Mojokerto (beritajatim.com) – Ikatan Mahasiswa Mojopahit Pecinta Alam (IMMPA) menggelar Festival Puncak Pawitra I yang berlangsung di Puncak Bayangan, Gunung Penanggungan, 22-23 Desember 2018 lalu. Acara yang didukung Relawan Peduli Lingkungan (REPELIKA) Mojokerto ini, diisi berbagai macam kegiatan selama dua hari.
Kegiatan ini diikuti seluruh anggota aktif IMMPA dan para pendaki yang ikut berpartisipasi dengan total peserta kurang lebih 90 peserta. Dengan mengusung tema \\\’100 Pohon untuk Penanggungan\\\’, para peserta melakukan pendakian bersama menuju puncak bayangan dan mendirikan tenda dan dilanjut briefing pada Sabtu (22/12/2018).
Di hari kedua, Minggu (23/12/2018), kegiatan dilanjutkan dengan masak dan menggoreng onde-onde yang merupakan jajanan khas Kota Mojokerto, diskusi lingkungan bareng komunitas Trashbag DPD Jawa Timur, pembagian doorpize dan bersih-bersih gunung di puncak bayangan. Acara menanam pohon jenis akasia (Acacia Denticulosa) di pos 4 menjadi penutup kegiatan yang baru pertama digelar tersebut.
Ketua pelaksana, Alvin mengatakan, kegiatan tersebut digelar karena semakin bertumbuhnya kesadaran menjaga kelestarian alam di kalangan para pendaki. \\\”Tujuannya untuk menjaga gunung Penanggungan dari kerusakan, menjaga kelestarian alam dan melestarikan budaya tepatnya jajanan tradisional onde-onde,\\\” ungkapnya, Senin (24/12/2018).
Terbukti, lanjut Alvin, meski Festival Puncak Panitia baru digelar di tahun pertama ini, namun antusiasme peserta sangat tinggi. Menurutnya, hal tersebut tidak lepas dari kasadararan para pecinta alam untuk menjaga alam karena sangat penting bagi kehidupanbaik sekarang ataupun untuk anak cucu nantinya.
\\\”Kenapa dalam kegiatan ini, kita juga ingin melestarikan budaya khususnya jajanan tradisional. Karena kami ingin memberikan hal yang berbeda, selain itu melestarikan budaya tidak hanya menjadi tanggungjawab para budayawan tapi juga tanggungjawab kita semua termasuk pecinta alam. Onde-onde dipilih karena menjadi ciri khas kota Mojokerto,\\\” katanya.
Alvin menjelaskan, onde-onde sendiri sebelumnya sudah dibuat di rumah salah satu panitia kemudian dibawah naik dan pada hari kedua digoreng. Peserta sendiri tidak hanya datang dari wilayah Mojokerto saja, namun juga daerah sekitarnya. Seperti Malang, Sidoarjo, Pasuruan, Surabaya dan Gresik. Penanaman pohon tersebut tidak berhenti disitu karena pemeliharaan akan dilakukan setiap dua minggu sekali.
\\\”Mulai dari pembersihan rumput di sekitar area tanam agar tidak mengganggu pertumbuhan. Selain itu juga akan di cek pertumbuhan tanaman, bilamana ada tanaman yamg mati akan diganti baru. Perawatan akan terus dilakukan sampai tanaman bisa hidup mandiri. Untuk diskusinya mengenai penanganan sampah di gunung,\\\” tuturnya.
Karena selama ini, tegas Alvin, budaya untuk menjaga gunung masih sangat rendah di kalangan penggiat alam bebas. Alvin menambahkan, jika kegiatan tersebut IMMA sebagai penggagas dan REPELIKA sebagai pendukung acara dan diharapkan bisa rutin digelar setiap tahunnya.
Koordinator Lapangan (Korlap) REPELIKA, Lukman Haroen menambahkan, selain melakukan penanaman, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan perawatan pohon pinus yang sudan ditaman sejak satu tahun yang lalu. \\\”Beberapa pohon pinus sudah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, bahkan ada beberapa pohon yang sudah mencapai tinggi 2 meter lebih,\\\” urainya.
Pihaknya berharap dengan seringnya kegiatan konservasi yang dilakukan di Gunung Penanggungan bisa menjadikan gunung yang mempunyai nama lain Pawitra ini menjadi sumber air serta oksigen sekitarnya. Selain itu juga diharapkan dengan hidupnya kembali hutan Penanggungan mampu kembali mengundang satwa dan bisa berkembang biak.
Sementara itu, salah satu peserta asal Sidoarjo, Agung Wahyu mengapresiasi kegiatan tersebut. \\\”Sangat baik karena tujuan untuk melindungi alam dan juga ide menggoreng onde-onde di Puncak Bayangan, itu sangat kreatif dan menunjukkan bahwa kita sebagai remaja generasi millennial tidak lupa akan jajanan tradisional yang menjadi ikon Kota Mojokerto,\\\” tegasnya. [tin/but]





