Malang(beritajatim.com) – Liburan natal dan tahun baru telah tiba. Malang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Jawa Timur. Beragam tempat wisata dan aneka kuliner ditawarkan oleh kota berhawa dingin ini.
Diantara deretan wisata kuliner yang menjamur. Ada salah satu tempat wisata legendaris, yakni depot Hok Lay di Jalan KH Ahmad Dahlan, Klojen, Kota Malang. Hok Lay didirikan oleh NJ.DJ Tio Hoo Poo pada tahun 1946.
\\\”Menu legendaris yang tetap kita jual adalah Cwie Mie, lumpia, dan minuman fosco. Cwie mie asli Malang, lumpia berbahan rebung, wortel dan ayam, dan fosco ini seperti karamel minuman berbahan susu,\\\” kata Budiman Suriwijaja (60) pengelola Hok Lay, Minggu, (23/12/2018).
Dahulu, Hok Lay menjadi tempat favorit para pecinta kuliner. Medio 50 hingga 70-an Hok Lay adalah cafe paling favorit di Malang. Pengakuan Budiman, hampir setiap akhir pekan antrean panjang mengular, menanti tempat duduk untuk santap makanan khas Hok Lay.
Katanya di Malang belum ada banyak Cafe, pesaing Hok Lay hanya depot Marhaen di Jalan Irian Jaya kini sudah tutup. Dan Toko Oen di Jalan Basuki Rahmat. Hanya Hok Lay dan Toko Oen saja yang bertahan hingga era milenial kini.
\\\”Tempat dan struktur bangunan tidak berubah tetap seperti ini. Malahan sekarang jadi cafe heritage karena katanya ini warung legend sesuai usianya. Tetap sederhana dengan 6 meja dan 6 kursi dimasing-masing meja,\\\” ujar Budiman.
Budiman mengatakan meja dan kursi bahkan kusen bangunan, tetap orisinil sejak rumah sekaligus depot Hok Lay berdiri. Berbahan dari kayu jati, sehingga tak lapuk dimakan usia. Renovasi hanya di bagian plafon berukuran 4×8 ini. Sebab, plafon tak bisa bertahan lama. Ubin atau tegel tetap orisinil.
\\\”Hanya renovasi dibeberapa bagian saja, seperti atap. Sekarang jadi tujuan utama wisata heritage di Malang. Sesuai tradisi keluarga, cafe ini buka pada pukul 09.00 WIB – 13.30 WIB, kemudian buka lagi pada pukul 17.00 WIB – 21.00 WIB,\\\” papar Budiman.
Pelanggan tidak hanya warga Malang saja, tapi juga luar kota bahkan wisatawan mancanegara. Selain tujuan menyantap hidangan juga sebagai tempat nostalgia. Mengenang kisah spesial berkuliner di Hok Lay.
\\\”Ya kebanyakan datang kesini itu mau nostalgia, ada yang dulu pernah pacaran disini. Ada juga yang pernah diajak orangtua, biasanya habis nyekar ke makam terus ke sini mumpung liburan di Malang,\\\” ucap Budiman.
Hok Lay tidak membuka cabang dimanapun. Sebagai kafe legendaris kini Hok Lay bersaing dengan cafe-cafe modern. Ciri khas yang ditonjolkan adalah menu andalan, rasa diklaim tak berubah sebab resepnya turunan dari kakek nenek.
\\\”Sekarang sih ada menu-menu tambahan. Tapi paling legendaris ya cwi mie, lumpia dan fosco. Kami tidak akan membuka cabang, tapi menyiapkan generasi penerus untuk mengelola Hok Lay,\\\” tandas Budiman. (luc/ted)





