Jember (beritajatim.com) – Ada sembilan kesamaan antara Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 Anies Rasyid Baswedan dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Kesamaan ini dinilai membuat mereka cocok jika berpasangan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden mendatang.
Kesamaan tersebut diungkapkan Moch. Eksan, dosen mata kuliah Ahlussunnah wal Jamaah Universitas PGRI Argopuro Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan penulis buku ‘Kerikil di Balik Sepatu Anies’, Kamis (8/6/2023).
“Pertama, Anies dan Khofifah lahir pada hari dan bulan yang sama. Yang beda tahunnya saja. Anies lahir pada Rabu, 7 Mei 1969. Dan Khofifah lahir pada Rabu, 19 Mei 1965. Dalam hitungan Primbon Jawa, weton Rabu Kliwon dan Rabu Legi bila berpasangan dinilai baik,” kata Eksan.
Bahkan, lanjut Eksan, pasangan ini murah rezeki, cukup sandang pangan, dan bahagia. “Tingkat keberhasilan pasangan ini 72 persen,” kata aktivis muda Nahdlatul Ulama ini.
Anies dan Khofifah sama-sama berzodiak Taurus yang berlambang kepala banteng. “Sosok pribadi yang cerdas, pekerja keras, dan punya kemauan keras. Keduanya punya sifat lemah lembut, sopan, santun, pandai bergaul, bisa saling mengisi dan melengkapi,” kata Eksan.
Eksan menilai, Anies dan Khofifah sama-sama banteng sejati. “Mereka adalah petarung tak pernah kenal kata menyerah. Ambisinya untuk memperjuangkan idealisme menjadi energi yang tak pernah habis,” katanya.
Anies dan Khofifah adalah sama-sama gubernur berprestasi selama menjabat. Mereka menjadi gubernur dengan mengalahkan calon petahana yang didukung PDI Perjuangan. Anies mengalahkan Basuki Tjahaya Purnama dalam Pemilihan Gubernur DKI 2017, dan Khofifah mengalahkan Saifullah Yusuf-pada Pemilihan Jawa Timur 2018.
Yang menarik, menurut Eksan, keduanya sama-sama tak dipromosikan Presiden Joko Widodo saat pemilihan gubernur. “Istana malah lebih senang mengendorse lawan mereka dalam pemilihan gubernur,” katanya.
Padahal, lanjut Eksan, Anies dan Khofifah pernah menjadi juru bicara Tim Kampanye Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pemilu 2014. Mereka punya kemampuan orasi, narasi, diplomasi yang bagus, dan tutur bahasa maupun kata-kata yang runut dan runtun.
Kemampuan Anies dan Khofifah membuat program Nawacita Jokowi-JK saat itu mudah dicerna dan diterima oleh publik saat dikampanyekan. Anies-Khofifah benar-benar menjadi penyambung lidah pasangan capres-cawapres yang diusung oleh PDI Perjuangan dan Nasdem tersebut.
Anies dan Khofifah juga bukan orang asing dalam pemerintahan Jokowi. Anies pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Khofifah pernah menjadi Menteri Sosial. Keduanya sama-sama diganti sebelum lima tahun masa jabatan Jokowi-JK selesai. Anies diganti oleh Muhadjir Effendy pada 27 Juli 2016 dan Khofifah mengundurkan diri dari kebinet dan diganti Idrus Marham pada 17 Januari 2018.
Dalam tradisi gerakan mahasiswa, Anies dan Khofifah adalah aktivis dari organisasi mahasiswa ekstra kampus terkemuka. Anies aktivis Himpunan Mahasiswa Islam dan Khofifah tokoh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.
“Keduanya adalah pemimpin mahasiswa yang berhasil mengajarkan serta mencontohkan ideologi perlawanan terhadap rezim penguasa diktator dan otoriter. Dalam beberapa peristiwa penting dan bersejarah, Anies dan Khofifah acap memimpin gerakan mahasiswa turun ke jalan,” kata Eksan.
Mereka sama-sama pejuang keadilan warga. Khofifah aktif dalam perjuangan keadilan gender. Keduanya meyakini keadilan adalah basis nilai yang mendasari kebijakan dan alokasi anggaran. Ini terbukti dari penurunan gini rasio atau kesenjangan ekonomi di DKI dan Jatim selama mereka memimpin.
“Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan gini rasio Propinsi DKI Jakarta 0,412 dan Jawa Timur 0,364. Anies dan Khofifah menghadapi ketimpangan pendapatan dan kekayaan warga. Ini tantangan yang harus dijawab melalui peningkatan pendapatan dan pemerataan pembangunan,” kata Eksan.
Kemampuan Anies dan Khofifah terinspirasi dari tokoh intelektual muslim asal Jombang, Jawa Timur. “Anies dibesarkan dalam cakrawala intelektualitas Nurcholish Madjid atau Cak Nur dan Khofifah dibesarkan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dua tokoh ini berhasil mengakhiri perseteruan Islam dan Pancasila, menyatukan keislaman dan Keindonesiaan dalam satu tarikan nafas, serta berjuang di atas jalan demokrasi,” kata Eksan.
Eksan meyakini, Anies dan Khofifah mewarisi cita-cita politik yang inklusif Cak Nur dan Gus Dur yang tak ingin menjadikan Indonesia negara Islam dan membuat Indonesia menjadi negara sekuler. “Indonesia adalah nation state (negara bangsa) denga warga negara yang punya kedudukan yang sama di depan hukum dan pemerintah, seperti spirit Piagam Madinah,” katanya.
Kesamaan kesembilan adalah Anies dan Khofifah sama-sama berpengalaman dan dapat berbagi tugas untuk meningkatkan produktifvtas dan kinerja pemerintahan. “Sebagai pasangan yang punya pengalaman memimpin daerah, diyakini bisa mengelola negara lebih baik menuju baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Sebuah negeri yang baik dan diberi ampunan Tuhan,” kata Eksan. [wir]






