Malang (beritajatim.com) – Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengukuhkan dua Guru Besar yaitu Prof. Dr. Ir. Bagus Wahyudi, MT., dari jurusan Teknik Mesin dan Prof. Ratih Indri Hapsari, ST., MT., Ph.D., dari jurusan Teknik Sipil. Keduanya menjadi guru besar keempat dan kelima yang dimiliki oleh kampus vokasi ini.
Prof Bagus menjadi guru besar bidang konversi energi dan pemeliharaan mesin. Pada orasi ilmiahnya, dia memaparkan tentang ‘Peran Ilmu Konversi Energi dan Pemeliharaan Mesin dalam Era Revolusi Industri 4.0 dan Era Artificial Intelligence’.
Menurut Prof Bagus, konversi energi berperan penting untuk mengatasi tantangan energi global. Caranya dengan optimalisasi proses konversi ke sumber energi terbarukan.
“Energi terbarukan dapat menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dan tangguh. Manajemen pemeliharaan di era Revolusi Industri 4.0 dan gaya hidup AI (artificial intelligence) sangat penting untuk memaksimalkan manfaat teknologi canggih hingga mengoptimalkan biaya,” ujar guru besar Polinema tersebut.

Sementara itu, Prof Ratih menyampaikan orasi ilmiah berjudul ‘Mitigasi Bencana Banjir dan Sedimentasi Melalui Advanced Technology dalam Observasi dan Pemodelan’. Ia memaparkan bahwa perubahan tata guna lahan dan aktivitas hidrometeorologi di Indonesia sangat tinggi. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang rawan bencana sedimen.
“Baik itu tanah longsor, banjir bandang, maupun banjir lahar, sehingga untuk mengurangi dampak dari bencana sedimen, diperlukan usaha mitigasi bencana melalui pengamatan dan peringatan dini,” ujar Prof Ratih.
Baca Juga:
Polinema Ajak UMKM di Malang Raya Optimal dengan Bisnis Model Canvas
Salah satu upaya itu dengan teknik observasi advanced technology dari hydro meteorological observation. Melalui penelitiannya, dia menjelaskan cara kerja teknik observasi agar berperan mengurangi risiko bencana. Namun, tetap dengan biaya rendah untuk pengadaan teknologi yang digunakan.
Rapat senat akademik berlangsung di Aula Pertamina pada Selasa (6/6/2023) kemarin. Direktur Polinema, Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT., dengan tambahan dua guru besar Polinema saat ini memiliki lima guru besar.
“Ini sebagai upaya untuk semakin meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Diharapkan ini dapat menjadi motivasi bagi dosen lainnya untuk bisa segera mengikuti jejak langkah para Guru Besar yang sudah ada,” ujar Supriatna.
Saat ini, Polinema mempunyai 95 orang tenaga pendidik yang sudah menyelesaikan jenjang S3. Mereka rata-rata berada di jabatan Lektor Kepala dan tujuh dosen sedang mengikuti proses persiapan pengajuan guru besar.
“Kami mendorong agar terus terjadi penambahan guru besar, terutama beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebagai guru besar. Sehingga kita akan berusaha memetakan apa saja kendala para dosen untuk mengajukan menjadi profesor,” jelas Supriatna.
Pengukuhan guru besar ini dilaksanakan bersamaan dengan orasi ilmiah yang menjadi rangkaian kegiatan Dies Natalis Polinema ke-41. Tiga orator yang menyajikan persentasenya yaitu:
Pertama, Dr. Dra. Esther Hesline Palandi, M.Pd., dengan judul orasi ‘Strategi Kesopanan dalam Tindak Tutur Bahasa Jepang sebagai Kajian Retorika Modern’. Kedua, Erfan Rohadi, ST., M.Eng., Ph.D., dengan judul orasi ‘Dual band MIMO Antenna for Outdoor W-LAN Applications’. Ketiga, disampaikan oleh Nur Indah Riwajanti, SE., M.Comm., Ph.D. dengan judul orasi ‘Peningkatan Literasi Keuangan Syariah pada Generasi Milenial melalui Mobile Learning Application dan Board Game,’. [dan/beq]






