Jember (beritajatim.com) – Muhammad Iqbal, pengamat komunikasi politik Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengkritik kampanye Anies Baswedan selama ini karena kurang rileks dan menjangkau banyak kalangan.
“Kampanye tim pemenangan Anies belum banyak muncul dan membanjiri media sosial dan media online dengan konten-konten yang ‘happy-happy’, ‘fun moment’, ‘fresh gimmick’, dan ‘relax event‘ yang khas generasi Z dan milenial maupun rakyat desa,” kata Iqbal, Minggu (4/6/2023).
Justru, lanjut Iqbal, nyaris di semua lini massa media sosial dan media online, konten relawan dan tim Anies ikut terseret ke pusaran isu politik para elite. “Akibatnya, warganet dan warga biasa jadi ikut tegang, serius melulu tiap hari. Hampir tidak bisa rileks atau fun,” katanya.
Iqbal melihat ada perbedaan jauh antara cara kerja tim Anies dengan tim pemenangan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo. Performa Prabowo dan Ganjar dikemas dengan lebih santai, sehingga warganet media sosial dan media online bisa menikmatinya.
“Maka, yang terpenting bagi tim Anies adalah mengubah atau memperbanyak event, konten, gimmick yang fun, rileks, atau bahagia dan membahagiakan. Biarlah yang serius-serius diurus para elite saja. Relawan atau tim sukses merawat warganet dan warga negara dengan kegembiraan dan perayaan pesta demokrasi,” kata Iqbal tersenyum.
Menurut Iqbal, semua tim pemenangan kandidat presiden harus memahami karakter pemilih muda (gen Z dan milenial atau zilenial) dan memahami karakter format platform dan konten kampanye di media sosial dan media online. “Mereka juga harus memahami isu dan daya tarik pemilih muda serta memahami kampanye digital,” katanya.
Pemetaan isu global dan lokal untuk kegiatan sosial dan kampanye sosial sangat dibutuhkan. “Kampanye kreatif era demokrasi digital menjadi salah satu kunci. Zilenial sangat butuh suguhan rasional dan bersifat isu lokal – global. Misal, isu lingkungan, isu demokrasi digital, isu budaya digital, isu kecerdasan buatan, isu lapangan kerja virtual (remote job), isu budaya pop,” kata Iqbal.
Semua narasi harus berujung pada aksi. “Kalau cuma suguhan kompetisi game online, konten aplikasi media sosial yang mengumbar pujian dan pencitraan semata, sifatnya sangat instan dan dipandang zilenial sebagai basa-basi hiburan saja. Kemasan yang lebih rasional dengan isu esensial buat kebutuhan literasi zilenial, jauh lebih dibutuhkan dan berdaya pikat erat buat mengikat,” kata Iqbal. [wir]






