Malang (beritajatim.com) – Pendidikan Profesi Guru (PPG) program studi bahasa Indonesia Universitas Islam Malang (Unisma) gelombang 1 menghelat webinar belajar bersama menyusun pembelajaran inovatif sastra dalam kurikulum merdeka.
Acara yang diadakan mahasiswa PPG angkatan 2022 tersebut menghadirkan pembicara Dr. Ari Ambarwati, M.Pd. dosen yang sekaligus penulis dan peneliti bacaan anak-remaja.
Ketua pelaksana, Jali Yulaeni, M.Pd. menyampaikan tentang pentingnya pendidikan yang berjenjang dan berkelanjutan, serta implementasinya dalam kurikulum merdeka. Menurut Jali Yulaeni, pembelajaran sastra dalam kurikulum merdeka tidak lagi tersurat secara eksplisit, melainkan terdapat dalam capaian pembelajaran (CP) yang nantinya dipetakan kembali oleh guru menjadi tujuan pembelajaran (TP).
“Oleh karena itu, keberadaan muatan sastra pada kurikulum merdeka lebih memberi kesempatan guru untuk eksplorasi dan kreasi terkait tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Webinar ini dilaksanakan sebagai wujud keinginan mahasiswa calon guru belajar bersama menyusun pembelajaran sastra dalam kurikulum merdeka,” ujarnya, Senin (29/5/2023).
Webinar ini berlangsung pada Jumat 26 Mei 2023 lalu melalui Zoom Meeting. Saat acara pembukaan, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unisma, Dr. Hasan Busri, M.Pd., menyampaikan, mahasiswa PPG perlu memperhatikan terkait pengembangan pembelajaran yang diarahkan pada kodrat alam dan kodrat zaman.
Selain itu, perlu juga ditekankan pengembangan kompetensi abad ke-21, dan sistem kepemimpinan yang harus dimiliki guru. “Guru profesional juga mempertimbangkan 4 (empat) keterampilan di abad ke-21 untuk dikuasai oleh peserta didik,” kata Hasan Busri.
BACA JUGA:
Kegitan FEB Unisma Diikuti Peserta dari 8 Negara
Keempat keterampilan tersebut, kata Dekan FKIP, yaitu pertama berpikir kritis dan pemecahan masalah, kedua berpikir kreatif, ketiga komunikasi, dan keempat kolaborasi. Keempatnya disebut juga sebagai 4C. Kompetensi abad ke-21 tersebut perlu diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, Dr. Ari Ambarwati, M.Pd., sebagai pemateri, menjelaskan bahwa pengenalan verse-short story bergambar dapat menjadi hasil dari pembelajaran inovatif sastra. Genre itu dapat mewakili beberapa gaya belajar sekaligus, yaitu gaya audio dan visual, yang jika dibuat pertunjukan dapat mewakili gaya belajar kinestetik untuk sastra.

“Tantangan pembelajaran yang dihadapi oleh guru di sekolah, yaitu kesulitan untuk mengajar dan memotivasi peserta didik untuk menulis cerita. Berbekal masalah yang ada, solusi yang ditawarkan adalah menulis sastra dengan genre paduan antara puisi dan cerita pendek,” ujar Ari Ambarwati.
Menurutnya, penyusunan pembelajaran diawali dengan identifikasi masalah. Berangkat dari identifikasi masalah tersebut, solusi yang ditawarkan dan diterapkan dapat berbeda. Beberapa masalah yang mungkin dihadapi dalam pembelajaran sastra di kelas adalah ketidaksukaan peserta didik dalam membaca, kesulitan peserta didik dalam mulai menulis, dan peserta didik mengalami kemandekan atau writer’s block ketika menulis.
“Salah satu solusi yang ditawarkan untuk masalah tersebut di antaranya adalah memperkenalkan genre variatif dalam sastra seperti cerpen puisi ini. Genre cerpen puisi sangat cocok ketika dipanjankan dengan peserta didik yang intensitas membacanya kurang, pembaca pemula, dan peserta didik yang malas membaca dan alergi dengan bacaan atau teks yang panjang,” sambungnya.
BACA JUGA:
Prodi Akuntansi FEB Unisma Raih Akreditasi Unggul
Pembelajaran sastra dapat pula mendekatkan peserta didik pada realitas budaya dan pembentukan karakter yang peka terhadap lingkungan dan perubahannya. Merancang pembelajaran inovatif menggunakan genre cerpen-puisi dapat dimulai dari memetakan karakteristik peserta didik dan mengidentifikasi masalah yang ada.
Cara lainnya adalah berkolaborasi dengan peserta didik lain, terutama apabila terdapat peserta didik berkebutuhan khusus. Peserta didik melakukan tutor sebaya untuk membantu teman berkebutuhan khusus ketika pembelajaran.
“Pelaksanaan tutor sebaya ini sekaligus mengasah kemampuan berkomunikasi antar peserta didik, terutama meningkatkan kemampuan berkomunikasi tutor. Pembelajaran juga dapat dilakukan dengan metode pembagian peran, yang mana guru mengarahkan pada pembelajaran berdiferensiasi proses atau produk,” pungkas dosen pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Unisma tersebut. [dan/suf]






