Pasuruan (beritajatim.com) – WNI asal Kota Pasuruan akhirnya kembali ke tanah air setelah selama kurang lebih satu minggu merasakan ketegangan di medan perang Sudan.
WNI bernama Ummu Fatimah Qomariya (20) berhasil pulang ke rumahnya yang berada di Kelurahan Purworejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan pada Selasa (2/5/2023) kemarin.
Sebelumnya Fatimah sedang melakukan pendidikan University of Africa (UIA) melalui beasiswa dari Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta. Menurut Fatimah dirinya berhasil dievakuasi oleh relawan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) bersama Kedubes RI.
“Saat evakuasi kami dijemput sekitar pukul 03.00 waktu Sudan dan ada sekitar 160 mahasiswa yang dievakuasi pada kloter pertama. Bahkan saat itu Kedubes memesan 16 bis tapi hanya 4 bis yang datang,” cerita Fatimah sambil matanya berkaca-kaca.
Fatimah juga menjelaskan bahwa tempatnya belajar yakni University of Africa (UIA) merupakan zona merah. Bahkan setiap hari, dirinya harus mendengar dentuman keras dari rudal bahkan suara senjata api juga terus menghantuinya.
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/khofifah-sambut-penyintas-dari-sudan-satu-orang-dirawat/
Bahkan Fatimah dan 800 mahasiswa WNI lainnya harus bertahan di aula kampus yang juga merupakan zona merah medan perang. Tak satupun mahasiswa yang dievakuasi keluar dari aula kampus.
Mendengar kabar dirinya dan rekan mahasiswa lainnya akan dievakuasi, Fatimah merasa senang. Karena evakuasi kloter pertama mengutamakan para wanita dan ibu hamil.
“Waktu keluar kita juga disuruh mengendap-ngendap, ditambah kondisi yang gelap karena pemadaman listrik. Kita juga tidak diperkenankan untuk menyalakan senter, karena takut dicurigai,” imbuhnya.
Fatimah juga mengatakan bahwa dirinya tak membawa banyak barang saat dievakuasi. Bahkan dirinya hanya membawa satu baju ganti, dan barang keperluan lainnya.
Setelah sampai di asrama PPI, para mahasiswa juga harus menunggu selama lima jam hingga bis datang. Setelah bus datang kemudian semua mahasiswa melakukan perjalanan menuju pelabuhan Port Sudan.
Saat menuju pelabuhan rombongan evakuasi harus menempuh jarak yang memakan waktu 16 jam dan melewati beberapa pos penjagaan. Setidaknya ada lima kali rombongan berhenti untuk diperiksa, bahkan ada satu bus yang disuruh putar balik.
Setelah sampai di Port Sudan, rombongan mahasiswa menaiki kapal laut selama 20 jam menuju Jeddah. Setelah menginap semalam, rombongan mahasiswa diterbangkan dari Jeddah dan baru sampai ke Jakarta pada Sabtu, 29 April 2023.
“Pada tanggal 30 April, saya dan sampai ke Surabaya, disambut Ibu Gubernur Khofifah. Terus saya langsung pergi ke Jogja menemui kakak baru pulang ke Pasuruan kemarin malam,” pungkasnya. (ada/ted)






