Surabaya (beritajatim.com) – Mungkin masih banyak orang yang belum tahu mengenai filosofi ketupat dan lepet dalam tradisi Kupatan. Berikut makna tersirat dalam makanan khas lebaran ini.
Tepat seminggu atau tujuh hari usai Idulfitri, masyarakat Jawa biasanya menggelar tradisi Kupatan atau Hari Raya Kupat. Di mana mereka membuat makanan khas lebaran, yakni ketupat dan lepet yang kemudian dibagikan kepada saudara atau tetangga sekitar.
Ketupat dan lepet sendiri merupakan makanan yang pada dasarnya sama, yakni dibungkus dengan janur atau daun muda kelapa. Hanya saja bentuk dan isiannya berbeda. Untuk ketupat umumnya janur dianyam khusus hingga berbentuk prisma segiempat. Kemudian di isi dengan beras.
Baca Juga: Viral Video Mirip Anggota DPRD Bojonegoro Pangku Wanita, Begini Klarifikasinya
Sedangkan lepet, bentuknya berupa gulungan utuh janur kuning. Dengan isiannya ketan dan parutan kelapa. Terkadang masyarakat juga mencampurkan kacang di dalamnya.
Makanan yang butuh waktu empat hingga lima jam memasak ini pun tak sekadar nikmat, tetapi juga memiliki filosofi atau makna tersirat. Adapun janur sendiri dimaksudkan sebagai ‘Nur’ atau dalam Bahasa Indonesia berarti cahaya sejati.
Bentuk prisma segiempat dilambangkan sebagai bentuk hati manusia. Sehingga dapat dimaknai sebagai hati yang bercahaya. Dengan isian beras, yang apabila telah dimasak dan dibelah akan terlihat warna putih. Diharapkan dalam lebaran ini dapat menjadikan hati mereka putih atau suci kembali.
Dalam Bahasa Jawa, Ketupat atau kupat merupakan kependekan dari “Ngaku Lepat” yang artinya mengaku salah. Sedangkan lepet sendiri kependekan dari “Silep ingkang rapet” yang berarti kubur dengan rapat. Dengan kata lain, kupat dan lepet memiliki makna tersirat sebagai simbol dari pengakuan dosa.
Baca Juga: Arus Balik di Stasiun Malang, Inilah Jumlah Penumpang Tiba dan Berangkat
Di mana diharapkan agar semuanya dapat saling memaafkan dan mengubur segala kesalahan. Bentuk lepet yang dililit dengan tali, juga diidentikkan dengan tali persaudaraan yang erat.
Kedua makanan khas lebaran ini pada dasarnya memang tidak diajarkan di zaman Nabi. Kupat maupun lepet hanya makanan tradisional yang dikembangkan oleh wali penyebar agama Islam di tanah Jawa. Dengan tujuan agar masyarakat tidak lupa terhadap makna kesucian Idulfitri. (fyi/ian)






