Tuban (beritajatim.com) – Ampo, salah satu jajanan yang tidak bisa dilupakan dalam khazanah kuliner Nusantara. Jajanan khas Tuban ini cukup unik, lantaran bahan dasarnya menggunakan tanah liat.
Meski terdengar aneh, ampo ternyata cukup diminati. Rasanya gurih dengan aroma panggang proses pengasapan usai tanah liat diserut.
Konon, ampo ini ada sejak masa kolonial. Masyarakat pada zaman itu membuat ampo untuk dikonsumsi sambil minum teh atau kopi.
Tak hanya itu, ampo juga dijadikan sebagai sesajen untuk orang yang punya hajat. Seperti menggelar acara pernikahan, dan lain – lain.
Bahkan hingga saat ini, beberapa masyarakat di Tuban yang sedang hamil banyak yang nyidam makan ampo.
Hal itu diungkapkan oleh salah satu pembuat ampo, Rasimah, yang telah berusia 60 tahun. Rasimah berasal Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.
Rasimah merupakan generasi kedua pembuat ampo di Tuban. Tradisi ini kini telah dia teruskan kepada anaknya, Sarpik (44).
Sarpik mengungkapkan, aktivitas membuat ampo kini sepenuhnya dia jalankan. Sementara ibunya, Rasimah, hanya membantu ketika pesanan ampo sedang banyak-banyaknya.
Proses pembuatan ampo terbilang sederhana. Mulai dari mengambil tanah liat di lahan persawahan, kemudian didiamkan selama dua hari agar teksturnya lebih padat.
“Tidak semua tanah liat bisa dipakai, ini saja kita sewa tanah milik orang karena yang hanya bisa dipakai tanah tersebut,” ujar Sarpik, Rabu (26/4/2023).
Baca Juga:
Piknik Bareng Keluarga Jadi Aktivitas Libur Lebaran di Tuban
Menurut Sarpik, ciri tanah liat yang baik untuk dibuat ampo yaitu berwarna hitam, tidak ada batu kerikil, memiliki tekstur lembut atau halus. Jika ada batu-batu kecil, tanah liat harus dipilah terlebih dahulu.
Selain itu, kualitas tanah liat sebelum dijadikan ampo akan lebih bagus jika dibiarkan lebih dari satu malam. Ini agar tidak mudah patah ketika diserut.
“Istilahnya diungkep dulu lebih dari satu malam biar bagus, karena kalau dibiarkan satu malam saja kualitas ampo mudah patah,” kata Sarpik.
Setelah itu, Sarpik melanjutkan untuk menyiapkan alat bernama seseh yang terbuat dari bambu, ganden atau palu yang terbuat dari kayu, air serta pisau. Kemudian, tanah liat yang sudah padat lalu diserut menggunakan seseh sampai membentuk panjang ulir.
Sebelum diserut, tanah liat diolesi air sedikit demi sedikit. Ini agar teksturnya tidak terlalu kering padat, juga tidak boleh terlalu basah agar bisa diserut.
Setelah proses serut, ampo dijemur. Jika dirasa sudah kering, kemudian ampo diasapi di tungku selama kurang lebih sekitar 30 menit.
Apabila tidak memungkinkan dijemur, proses pengasapan bisa sampai satu jam. Proses pemanggangan atau pengasapan ini tidak boleh ada bara api.
Baca Juga:
Jumlah Pengunjung Pantai Kelapa Tuban Capai 15 Ribu
Ketika sudah jadi, ampo dikemas di plastik untuk dipasarkan. Uniknya, ampo ini bisa bertahan selama berbulan-bulan tanpa pengawet.
Sedangkan untuk harga dibandrol Rp10 ribu saja untuk ukuran 1 kilogram.
“Ampo ini nggak perlu ditambahi bumbu apa-apa, karena kalau ditambahi bumbu bisa jadi tidak awet, memang dari dulu sudah seperti ini,” ujar Sarpik.
Sementara itu, proses pemasaran sekarang sudah mengikuti era zaman modern, jika dahulu pemasaran hanya bisa dari rumah saja atau pesan terlebih dahulu, namun sekarang pemasaran sudah melalui market place via Shopee, sehingga masyarakat dari luar Tuban bisa mencoba makanan khas tersebut, dengan dibantu sepupunya, pemesanan paling banyak ke Bali karena dibuat sesajen, lalu ada juga dari Bandung dan Kalimantan.
Akibat dari penjualan via online, pendapatan Sarpik juga meningkat, sebab pesanan hampir setiap hari ada, jika dibandingkan waktu mbah Rasimah yang hanya dijual dipasar atau datang kerumah.
“Alhamdulilah setiap hari ada pesanan banyak dari luar kota, tapi ya gitu kesulitannya di kayu bakar, sebab harga kayu bakar cukup mahal sekitar Rp600 ribu, sedangkan proses pengasapan harus pakai kayu bakar tidak bisa pakai kompor, jadi kendalanya itu saja sih,” imbuhnya.
Ia berharap, Ampo makanan khas Tuban ini tidak punah, sebab Sarpik merupakan generasi terakhir dan belum ada penerusnya, sedangkan pembuatan Ampo di Kabupaten Tuban tergolong sedikit, bahkan sudah sulit dijumpai di pasar-pasar tradisional. [ayu/beq]






