Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi terus memperkuat berbagai program untuk mengikis tiga dosa pendidikan. Mulai dari bullying, kekerasan, hingga intoleransi.
“Kami terus dorong Dinas Pendidikan untuk memperkuat fungsi pendampingan guru melalui program Pojok Curhat di setiap sekolah. Selain itu, juga dilakukan Peran Parenting untuk meningkatkan kesepemahaman antara guru dan wali murid, serta berbagai upaya preventif lainnya,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Tak hanya itu, Pemkab Banyuwangi juga telah menelurkan sejumlah program pembiayaan pendidikan sehingga dapat menekan beban pendidikan. Di antaranya, beasiswa kuliah, uang saku dan bantuan transportasi tiap hari untuk pelajar, hingga bantuan biaya hidup untuk pelajar rentan putus sekolah.
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/anak-putus-sekolah-di-banyuwangi-akibat-bully/
Misal program uang saku, setiap pelajar SD mendapatkan Rp10 ribu per hari, SMP Rp15 ribu per hari, dan SMA Rp20 ribu per hari. Ada juga bantuan uang transportasi, para pelajar SD mendapatkan Rp10 ribu per hari, SMP Rp15 ribu per hari, dan SMA Rp20 ribu per hari.
“Ini untuk menstimulus anak-anak agar tetap mau sekolah. Terkadang, meskipun biaya pendidikannya telah ditanggung, mereka tetap enggan ke sekolah karena selama di sekolah tidak punya uang saku. Sehingga mereka sulit bersosialisasi dengan teman-temannya. Malu, minder dan kemudian tidak mau sekolah,” jelas Ipuk.
Sementara itu, menanggapi adanya siswa putus sekolah di Banyuwangi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Suratno memastikan yang bersangkutan tersebut bakal kembali sekolah lagi.
“Kami akan melakukan pendampingan secara intens agar bisa kembali sekolah,” pungkasnya. (rin/ted)






