Blitar (beritajatim.com) – Ramadhan menjadi berkah tersendiri bagi para disabilitas yang ada di Rumah Kinasih di Desa Sukorejo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Pasalnya di bulan yang suci ini, pesanan sajadah produksi para penyandang disabilitas meningkat drastis.
Bahkan sajadah sholat bikinan para difabel ini dipesan oleh Kementerian Sosial Indonesia. Total ada lebih dari 50 sajadah produksi para penyandang tunawicara dan tunarungu yang dipesan oleh Kemensos.
“Untuk tahun ini pesanan memang tidak sebanyak tahun kemarin tapi Alhamdulillahnya Rumah Kinasih ada inovasi baru sajadah Batik Ciprat yang dipesan oleh Kementerian Sosial, dan sejumlah Ditjen,” kata Dwi Mawadati, Ketua Yayasan Rumah Kinasih Blitar, Sabtu (8/4/2023).
Sajadah produksi Rumah Kinasih di Blitar ini menggunakan bahan kain batik ciprat yang di produksi oleh para penyandang disabilitas. Proses penjahitan sajadah dari kain batik ciprat ini juga dilakukan oleh para penyandang tunarungu dan tunawicara.
Meski sang pembuat memiliki keterbatasan, namun karya yang dihasilkan oleh para penyandang disabilitas ini memiliki kualitas yang tinggi. Hal itu terbukti dengan banyaknya pesanan yang datang ke Rumah Kinasih di Blitar.
“Iya kami menggunakan kain batik ciprat buatan anak-anak difabel bahkan penjahitnya juga dilakukan oleh teman-teman tunarungu dan tunawicara,” imbuhnya.
Baca Juga:
Pedagang Pasar Legi Blitar Keluhkan Listrik Tak Dihidupkan
Batik ciprat sendiri merupakan kain batik yang dibuat dengan menggunakan teknik mencipratkan larutan malam (bahan untuk menggambar kain batik).
Malam dicipratkan menggunakan tangan, sendok, dan kuas atau lidi. Sehingga dalam pembuatannya dilakukan dengan teknik jumputan dan teknik colet atau kuas. Perbedaan batik ciprat dengan batik yang lain adalah warnanya yang mencolok.
Batik ciprat di Rumah Kinasih diproduksi oleh puluhan penyandang disabilitas. Rumah Kinasih di Blitar sengaja memberdayakan para penyandang disabilitas demi membantu perekonomian mereka.
“Iya kami tetap mempertahankan untuk menggunakan bahan yang diproduksi oleh para difabel karena kami ingin membantu mereka baik dari segi ekonomi maupun kemampuan kewirausahaan dan itu yang menjadi ruh kami,” paparnya.
Sajadah batik ciprat karya paradifabel di Rumah Kinasih Blitar ini dijual dengan harga 80 hingga 90.000 per buahnya. Semua tergantung ukuran dan keunikan dari motif kain batik ciprat.
Baca Juga:
Pemuda Pandaan Pasuruan Sukses Kembangkan Bisnis Parcel
Kelebihan dari sajadah batik ciprat karya paradifabel ini, adalah ringan dan mudah dibawa bepergian. Meski begitu sajadah dari kain batik ciprat ini tetap nyaman untuk dijadikan alas sholat.
“Kalau sajadah batik ciprat yang kami produksi ini ringan dan memang konsepnya untuk dibawa bepergian jadi mudah untuk dilipat meski begitu tetap nyaman untuk digunakan,” pungkasnya.
Selain memproduksi sajadah dari batik ciprat Rumah Kinasih Blitar juga membuat mukena yang menggunakan kain batik ciprat. Ada pula peci dengan motif batik ciprat.
Semua produk sengaja menggunakan kain batik ciprat demi meningkatkan ekonomi para penyandang disabilitas yang ditampung di Rumah Kinasih di Blitar. [owi/beq]






