Surabaya (beritajatim.com) – Elemen foto, termasuk foto jurnalistik dalam konten media sosial selalu memberi nilai lebih. Apalagi jika foto yang ada memiliki kualitas yang baik.
“Tampilan visual karya-karya foto (jurnalistik) itu menarik. Sehingga dapat meningkatkan engagement dan followers di media sosial,” ungkap Mamuk Ismuntoro, fotografer profesional sekaligus pendiri komunitas Matanesia, saat berbicara dalam Festival Komunikasi Ramadan 2023 di Ruang Multimedia Stikosa-AWS, Selasa (4/4/2023) pagi.
Meski demikian, alumni Stikosa-AWS itu mengatakan jika pilihan ini bukan tanpa konsekuensi. Menurut sebuah riset di Amerika Serikat, keberadaan foto jurnalistik di media sosial memang mendongkrak popularitas, tapi di sisi lain juga menimbulkan kekhawatiran. “Foto-foto ini berpotensi kehilangan konteks jurnalistiknya,” kata pendiri Komunitas Matanesia ini.
Ia mencontohkan, bagaimana sebuah foto tiba-tiba berubah menjadi meme. Lebih celaka lagi, ada yang menggunakan foto sebagai pendukung hoax. “Diedit sedemikian rupa, diberi narasi sedemikian rupa. Keterangan foto serampangan,” lanjut Mamuk.
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/peristiwa/anas-pulang-ke-blitar-disiapkan-lodeh-dan-sayur-ikan-gabus/
Kekhawatiran Mamuk Ismuntoro seperti yang disampaikan dalam forum ini sebetulnya bukan tanpa alasan. Dari catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sejak Agustus 2018 hingga awal 2022, terdapat 9.546 hoax yang tersebar di berbagai platform media sosial di internet. Dari jumlah tersebut, sebagian besar hoaks menggunakan foto sebagai elemen utama atau pendukung dalam konten mereka.
Tahun 2019 misalnya, 92,4 persen dari konten hoaks yang beredar di media sosial menggunakan foto. Ini menunjukkan jika foto memiliki daya tarik sekaligus kekuatan besar dalam mempengaruhi persepsi dan emosi seseorang.
Jauh sebelum itu, studi Universitas California pada 2018 melihat sejumlah besar berita palsu yang beredar pada Pemilihan Presiden AS 2016 dan menemukan bahwa sekitar 57 persen dari 126 cerita palsu yang diperiksa mengandung foto yang salah atau salah digunakan.
Studi ini juga menemukan bahwa foto-foto yang salah digunakan seringkali disebarkan melalui akun media sosial yang berbeda-beda dengan tujuan menghindari deteksi.
Sementara studi lain yang dilakukan oleh Reuters Institute for the Study of Journalism pada tahun 2018 menemukan bahwa foto-foto palsu dan manipulasi visual seringkali digunakan dalam konten berita palsu. Mereka menemukan bahwa 65 persen dari 4.000 responden di 37 negara percaya bahwa berita palsu seringkali menggunakan foto atau video yang salah.
Studi-studi ini menunjukkan bahwa foto seringkali digunakan dalam konten berita palsu dan bahwa manipulasi visual dapat menjadi strategi yang efektif dalam menyebarkan hoaks. Namun, karena konten hoaks dan berita palsu terus berevolusi dan berkembang, angka ini mungkin telah berubah sejak riset tersebut dilakukan.
Sebuah artikel di The Guardian pada September 2021, mengutip hasil penelitian Universitas Cambridge menemukan bahwa foto yang dimanipulasi sering digunakan dalam konten berita palsu yang disebarkan melalui media sosial. Studi ini menyebutkan bahwa sekitar 70 persen dari lebih dari 2.500 artikel berita palsu yang diperiksa dalam penelitian ini mengandung setidaknya satu gambar yang salah atau dimanipulasi.
Lalu studi lain yang diterbitkan di Journal of Computer-Mediated Communication pada tahun 2020 menemukan bahwa foto yang digunakan dalam konten berita palsu seringkali memiliki ciri-ciri seperti pencahayaan yang tidak konsisten atau ketidakcocokan antara konten visual dan naratif artikel. Studi ini juga menemukan bahwa foto yang dimanipulasi seringkali digunakan dalam konten berita palsu. (ang/kun)






