Malang (beritajatim.com) – Tim dosen FEB Unisma memberi bimbingan teknis (Bimtek) pada tenaga pendidik di SMA Negeri 1 Batu. Kegiatan pelatihan tersebut menerjunkan tim yang terdiri atas Rahmawati,SE.,MM.,MBA, Ratna Tri Hardaningtyas, SE.,MM, Dr. Muhammad Ridwan Basalamah,SE.,MM dan Harun Al-Rasyid,BS.,MIEB.,PhD.
Keempat dosen memberi bimbingan soal pemberian pelayanan prima sebagai penguatan karakter. Ada 60 tenaga pendidik (tendik) dari SMA Negeri 1 Batu hadir saat kegiatan. Bimtek tersebut berlangsung selama tiga hari pada beberapa minggu lalu.
Bimtek Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang (FEB Unisma) itu sebagai bentuk community service dengan memberikan bimbingan, pelatihan maupun kegiatan sosial lain. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan social welfare maupun kompetensi masyarakat umum.
“Untuk itu kami menerjunkan tim dosen dan mahasiswa agar berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini menitikberatkan pada jembatan keilmuan yang ada di fakultas agar bisa dapat diaplikasikan di masyarakat,” kata Dekan FEB Unisma, Nur Diana SE, M.Si., Selasa (4/4/2023).
BACA JUGA:
Sejalan dengan itu, tim dosen yang terjun langsung menyampaikan berbagai kesannya. Rahmawati misalnya, yang memandang service excellent atau pelayanan prima adalah bentuk tindakan nyata yang tulus.
“Pelayanan prima harus berasal dari hati sehingga terpancar dari performa dan senyum untuk mengenal dan mengutamakan kebutuhan pengguna layanan serta memenuhi harapan. Tendik diajarkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan melebihi ekspektasi yang diharapkan,” katanya.
Ia berharap dari bimbingan teknis tersebut tendik di SMA Negeri 1 Batu dapat menjalankan standar perilaku pelayanan prima. Diantaranya dengan mencerminkan profesionalisme tugasnya, memasang kartu identitas, selalu rapi, bersih dan sehat.
“Selain itu pelayanan prima ditunjukkan dengan tidak bau rokok, bau badan atau bau lain menyengat lainnya. Secara penampilan, tidak menunjukkan tato atau penampilan lain yang menyebabkan pengguna terganggu. Terakhir tidak menunjukkan bahasa tubuh yang tidak sopan,” jelasnya.
Tim dosen selanjutnya, Dr Muhammad Ridwan Basalamah menjelaskan bahwa pembangunan budaya pelayanan prima perlu menetapkan regulasi dengan membangun komitmen. Menururnya, harus ada penetapan kode etik pelayanan prima.
“Kami harap nantinya ada pembuatan surat pernyataan komitmen, penetapan target setiap unit. Selain itu juga adanya kewajiban bagi pimpinan untuk melakukan pengawasan, forum pelaporan berkala langsung kepada pimpinan tertinggi serta adanya role model yang baik,” pesannya.
Ratna Tri Hardaningtyas, menjelaskan, positive mental health sebagai hal yang penting. Menurut Ranta, mental dapat mewujudkan well being. Well being merupakan kondisi individu yang digambarkan dengan adanya rasa bahagia, kepuasan, tingkat stres yang rendah, dan sehat secara maupun maupun mental.
“Pelayanan prima juga ditunjukkan dengan kualitas hidup baik. Artinya dengan kata lain, individu dengan well being mampu menjaga kesehatan secara fisik dan mental sehingga mampu menyelesaikan tantangan, mencapai kebahagiaan, dan kepuasan hidup,” ungkap Ratna.
Terakhir ditambahkan oleh Harun Al-Rasyid terkait cara mencapai well being dengan melatih positive self-talk. Hal itu diartikan sebagai berbicara hal baik pada diri masing-masing, lalu membangun kesadaran dan fokus mindfulness.
“Teknik ini menekankan pada pemikiran agar hanya fokus pada kondisi saat ini. Perlu juga menghargai diri sendiri, yang dimulai dengan memperlakukan diri kita dengan baik,” jelas Harun Al Rasyid. (dan/kun)






