Surabaya (beritajatim.com) – World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua dengan penyakit Tuberkulosis (TBC) terbanyak di dunia pada tahun 2021.
TBC menjadi penyakit menular paling mematikan pada urutan kedua di dunia setelah Covid-19 pada tahun 2021. Selain itu, TBC juga berada pada urutan ke-13 sebagai faktor penyebab utama kematian di seluruh dunia. Penyakit ini tentu harus diwaspadai dan dicegah sedini mungkin.
Ketua PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso mengungkapkan bahwa penyakit TBC berasal dari bakteri Mycobacterium tuberculosis. Hal ini ditemukan oleh Dr. Robert Koch pada 24 Maret 1882 hingga diperingati menjadi hari TBC sedunia.
“Setiap 24 Maret jadi hari TBC sedunia. Meskipun sudah ada vaksin dan obatnya, tapi masalahnya belum selesai-selesai,” ungkap Piprim dalam Media Briefing Virtual melalui Zoom hari ini, Senin (20/3/2023).
Ketua UKK Respirologi IDAI, Dr Rina Triasih mengungkapkan bahwa TBC merupakan penyakit yang bisa menular melalui percikan air ludah.
BACA JUGA: IDAI Sebut Kasus Obesitas pada Anak Meningkat, Apa Penyebabnya?
Dia juga menyebutkan, selain paru-paru, TBC juga bisa mengenai organ tubuh lain sehingga anak-anak maupun orang dewasa perlu berhati-hati.
“TBC bisa mengenai organ tubuh lain, bisa ke usus, otak, tulang. Jadi selain ada TBC paru-paru, ada juga TBC ekstra paru,” ucap Rina.
Adapun gejala TBC pada anak yaitu batuk lama lebih dari dua pekan meskipun diberi obat, demam lebih dari dua pekan tanpa sebab jelas, berat badan turun dan anak lesu tidak seaktif biasanya.
Rina menjelaskan, untuk pengobatan TBC ringan minimal dilakukan selama 6 bulan dan obat yang dikonsumsi harus teratur dan tuntas. Sedangkan untuk TBC ekstra paru yang dinilai berat seperti TBC otak dan tulang, diperkirakan pengobatannya dilakukan selama 12 bulan.
Adapun untuk pencegahan TBC, kata Rina, dapat dilakukan melalui vaksin, pola hidup yang sehat serta menjaga kebersihan. (nap)






