Surabaya (beritajatim.com) – Nama Wage Rudolf Supratman atau lebih dikenal dengan WR Supratman mengukir sejarah di Tanah Air.
Perjuangannya yang luar biasa bagi kemerdekaan Indonesia masih dikenang. Tepat pada 19 Maret merupakan hari kelahiran WR Supratman, sang komposer, pengarang lagu-lagu kebangsaan, juga seorang jurnalis dan novelis.
Perannya sebagai pahlawan membawa pengaruh besar bagi Indonesia. Salah satunya kala ia melahirkan lagu hymne kemerdekaan, “Indonesia Raya” dan menjadi lagu kebangsaan hingga saat ini.
Biografi WR Supratman
WR Supratman merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Ia lahir dari pasangan Djoemeno Senen Sastrosoehardjo dan Siti Senen, yakni pada 19 Maret 1903 di Puworejo, Jawa Tengah. Meski begitu, ia tumbuh besar di Makassar bersama sang kakak, Roekijem sejak tahun 1914, bahkan biaya sekolahnya di biayai oleh suami dari Roekijem.
Di tahun 1917, ia lulus dari Tweede Inlandschool, lalu mencoba untuk mengikuti ujian Klein Ambteenar Examen dan berhasil lulus sebagai calon pegawai rendahan. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Normaalschool atau Sekolah Pendidikan Guru, hingga akhirnya ia menjadi guru di Sekolah Angka 2.
BACA JUGA: Tidak Hanya Makam Soekarno, Ini Deretan Tempat Wisata Bersejarah di Blitar
Bakat WR Supratman sebagai seorang musisi rupanya mengalir dari darah sang keluarga. Hasil karya sang kakak, Roekijem yang menggemari sandiwara dan musik di pertunjukan di mes militer.
Roekijem juga mahir bermain biola, sehingga hal itu menurun pada sang adik. Supratman baru terjun ke dunia musik ketika kakak iparnya akhirnya memberinya kado sebuah biola untuk ulang tahunnya ke – 17. Lantas keduanya yang menggemari musik jaz membuat grup jaz sendiri bernama Black and White.
Grup tersebut sempat populer di kalangan Belanda, sebelum akhirnya WR Supratman tertarik dan terjun di dunia politik. Ia juga pernah menjadi jurnalis pada tahun 1924 di surat kabar Kaoem Moeda dan Kaoem Kita. Lalu di tahun berikutnya ia pindah ke Jakarta untuk menjadi wartawan dari Sjn Po.
Hingga akhirnya dengan keadaan bangsa yang mendesak, membuatnya bertekad untuk ikut andil dalam perjuangan serta menemui tokoh – tokoh pergerakan. Tekad ini jua lah yang membuatnya tertarik untuk membuat lagu kebangsaan sehingga lahirlah lagu “Indonesia Raya” yang selama ini kita nyanyikan.
Di tahun 1932, Supratman mengalami sakit urat saraf karena bekerja terlalu keras dan kelelahan. Dalam keadaan sakit pun ia masih menulis lagu Surya Wirawan dan Mars Parindra. Akan tetapi ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 17 Agustus 1938 dan dimakamkan di Surabaya.
Nah, selain lagu Indonesia Raya, berikut ini adalah beberapa karya yang diciptakan oleh WR Supratman.
- Ibu Kita Kartini (1929)
- Di Timoer Matahari (1931)
- Iboekoe (1926)
- Bendera Kita Merah Poetih (1928)
- Matahari Terbit (1928)
- Bangoenlah Hai Kawan (1929)
- Mars KBI (1930)
- Mars PARINDRA (1930)
- Mars Surya Wirawan (1937)
- Selamat Tinggal (belum selesai ditulis pada 1938)
Itulah riwayat hidup dari WR Supratman di hari kelahirannya ini. Mari kita terus mengharumkan namanya hingga generasi – generasi berikutnya. (mnd/nap)






