Ponorogo (beritajatim.com) – Kabupaten Ponorogo menjadi salah satu penghasil gabah terbesar di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Setidaknya ada tiga kali dalam setahun, kabupaten yang berada di ujung barat Provinsi Jatim itu melakukan panen raya padi. Panen padi di Kabupaten Ponorogo biasanya terjadi pada bulan Maret-April, Juli-Agustus dan November-Desember.
“Saat ini pada bulan Maret-April merupakan puncak pertama hasil panen sejak tanam pada musim penghujan (MP) beberapa bulan lalu,” kata Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo Masun, Kamis (16/03/2023).
Masun mengatakan bahwa pada puncak panen pertama ini, diperkirakan akan menghasilkan 175.242 ton gabah kering panen. Perkiraan hasil gabah sebanyak 175.242 ton itu, dari lahan seluas 28.265 hektare.
“Perkiraan hasil panennya 175.242 ton gabah kering panen, dari lahan seluas 28.265 hektare,” katanya.
Jika dihitung dengan perbandingan panen pada tahun lalu, perkiraan hasil puncak panen pertama ini, sudah diangka 38,6 persen dari total panen tahun 2022 lalu. Sementara untuk musim panen pada bulan Juli-Agustus nanti, hasilnya 25-30 persen, dan sekitar 10-15 persen hasil panen dihasilkan pada bulan November-Desember.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ponorogo”]
“Itu artinya, total gabah di Ponorogo selama setahun, hampir 40 persennya dihasilkan saat puncak panen pertama seperti saat ini,” katanya.
Harga gabah untuk panen saat ini, kata Masun cukup terbilang tinggi. Yakni dari tangan petani, harga gabah kering dihargai Rp 6.200 per kilogram. Hal itu diketahui Masun, setelah dirinya melakukan kordinasi dengan Bulog Ponorogo. Masun menyebut harga tinggi itu, mungkin dipengaruhi oleh dunia internasional saat ini sedang krisis pangan. Sehingga juga berdampak di Indonesia sebagai negara penghasil pangan.
“Ini sebuah faktor anomali, harga tetap naik padahal sudah panen raya,” pungkasnya. [end/but]






