Surabaya (beritajatim.com) – OPPA-SecondMuse lewat program Waste System Community 2Scale (WSC2Scale) terus memperkuat peran bisnis dan pengelolaan sampah dalam mengurangi polusi sampah plastik.
Maklum, pengelolaan sampah plastik masih menjadi permasalahan cukup serius di Indonesia, termasuk Surabaya. Pasalnya, pencemaran sampah plastik tersebut berdampak buruk terhadap lingkungan.
Renni Widya, Manajer Ocean Plastic Prevention Accelerator (OPPA) mengatakan bahwa program lanjutan dari Waste Community Accelerator tersebut memberikan bimbingan dan support pencocokan teknis ahli. Tujuannya, yakni ingin membangun hubungan lebih kuat antara para peserta.
“Tujuannya membangun hubungan yang lebih kuat antara para peserta demi menguatkan rantai pasokan bahan plastik daur ulang,” ujar Renni, Kamis (9/3/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”sampah”]
Ia menyebut bahwa program WSC2Scale yang diluncurkan sejak Oktober 2022 lalu itu sebagai bentuk dukungan berkelanjutan OPPA terhadap bisnis pengelolaan sampah di Jatim. Dalam tiga tahun terakhir, kata dia, program ini juga sudah mendukung sebanyak 25 peserta.
“Selama lima bulan, tiga peserta terpilih mendapatkan konsultasi dan pendampingan teknis intensif serta berpartisipasi dalam kunjungan lapangan untuk belajar dari organisasi dan bisnis persampahan lainnya,” jelas Renni.
Dikatakannya, bahwa di akhir program para peserta menerima hibah tunai untuk mengembangkan bisnisnya lebih lanjut. Menurutnya, dukungan pendanaan dari program Waste Community Accelerator ini diberikan untuk pengadaan mesin press hidrolik untuk mengepress botol PET.
Dengan penambahan nilai bal, lanjutnya, mereka bisa meningkatkan pendapatan dari penjualan botol PET sebesar 56 persen. Hal ini tentunya berdampak pada pengurangan biaya transportasi dan penggunaan ruang penyimpanan yang lebih efisien.
Renni mengungkapkan, salah satu peserta Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS) juga telah mendapat dukungan pendanaan lebih lanjut dan diberikan dalam rangka renovasi gudang baru. Sehingga, memungkinkan mereka memperluas kapasitas pengelolaan sampah.
Sementara itu, Direktur BSIS, Anjar Putro menjelaskan jika dana hibah yang diberikan di akhir program WSC2Scale akan dipakai melakukan pendampingan kepada Bank Sampah Unit. Sehingga, hal itu akan meningkatkan jumlah sampah yang akan dikelola.
“Keterlibatan dengan program-program OPPA membentuk saya dapat mengembangkan BSIS. Hingga saat ini kami belajar bagaimana dapat membuat dan menjalankan program yang terencana dan terukur,” jelasnya.
Sedangkan Founder dan CEO di KPL SAE, Anik Andayani menilai dengan peningkatan kemampuan pemilahan sampah dapat mengumpulkan lebih banyak sampah bernilai untuk dijual, mencegah pekerja sampah harus secara manual memilah sampah plastik dari tumpukan sampah umum.
“Kami mendapatkan banyak sekali pengetahuan dari mengikuti kedua program. Kami mendapatkan pendampingan dari para ahli di bidangnya, seperti membuat laporan akuntansi, perpajakan maupun pengurusan surat-surat legalitas,” ujarnya. [ipl/kun]






