Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Program Studi (Prodi) Architecture Universitas Ciputra Surabaya, Susan ST MT menyebut pentingnya generasi muda dalam melestarikan budaya, termasuk warisan budaya tak benda.
Menurutnya, para penerus bangsa seolah memiliki kewajiban tak tertulis untuk bertanggung jawab dalam melestarikan budaya. Tentu dalam melestarikannya, masing-masing juga memiliki cara yang berbeda.
Hanya saja, Susan menilai bahwa masih banyak para penerus bangsa yang belum memahami tentang budaya nusantara tersebut. Ia menjelaskan, warisan budaya yang berwujud misalnya pakaian adat, alat musik. Sementara tak berwujud seperti tarian dan motif tradisional.
“Namun sayang belum banyak dari kita memahami tentang budaya nusantara ini,” terang Susan, ditulis Senin (6/3/2022).
BACA JUGA:
Universitas Ciputra Surabaya Latih Cak Ning Surabaya Table Manner
Susan mengatakan, wawasan soal warisan budaya tak benda sangat penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan mereka menaklukan pasar nasional maupun internasional. “Jika mahasiswa terpaku pada elemen yang berwujud saja, yang terjadi adalah mengimitasi elemen-elemen fisik ke dalam bangunan masa kini, yang mungkin justru menjadi tidak relevan,” katanya.
Dengan belajar elemen tak benda, kata dia, mahasiswa diharapkan bisa menggali makna lebih dalam untuk menjadikan arsitektur sebagai wadah dari human, culture, dan nature yang adaptif berdasarkan situasi dan kondisinya.
Sementara itu, dalam kuliah tamunya, Founder UMA Nusantara, Ir Yori Antar Awal menyampaikan bahwa tidak banyak orang Indonesia mengerti tentang arsitektur nusantara. Justru, banyak orang luar negeri yang mengerti dan mengagumi budaya Indonesia, termasuk arsitekturnya.
BACA JUGA:
Universitas Ciputra Surabaya Sulap Limbah Padat Jadi Produk Fashionable
“Justru lebih tahu tentang arsitektur peninggalan penjajah yaitu Belanda. Banyak yang bilang arsitektur khas budaya Indonesia ini seperti membicarakan tentang masa lalu dan masa kekelaman,” ujar Yori.
Padahal, menurutnya saat memasukkan unsur budaya nusantara, hal tersebut bisa menjadi ciri khas karya desain. Arsitektur, lanjut dia, tidak boleh hanya dilihat sebagai bangunan. “Di baliknya itu, ada harta karun yaitu gotong-royongnya, adaptasinya terhadap iklim, budaya lisannya, dan sebagainya,” tandasnya. [ipl/suf]






