Surabaya (beritajatim.com) – Ada jaksa cantik dan berprestasi di Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak Surabaya. Dia adalah Estik Dilla Rahmawati. Jaksa asal Madiun ini menempati peringkat tiga nasional saat Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) pada tahun 2022 lalu.
Lulusan S2 Hukum Universitas Negeri 11 Maret Surakarta ini, awalnya tak memiliki cita-cita menjadi Jaksa. Esti yang memiliki hobi menulis, awalnya ingin menjadi seorang dosen. Beberapa karya tulisnya yang berstandar internasional, berhasil menembus jurnal internasional.
“Aku dulu nulis itu awalnya karena ada kewajiban dari kampus untuk bikin artikel ilmiah di bidang hukum. Nah, terus aku bikinnya all out. Salah satunya itu di tahun 2020 aku pernah menulis tentang valuasi lingkungan pada penanganan tindak pidana korupsi. Pada tahun itu, masih jarang banget tulisan mengenai valuasi lingkungan, terus dari tulisanku itu aku submit di jurnal internasional, alhamdulillah masuk di salah satu jurnal internasional,” ujarnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kejari-tanjung-perak”]
Saat pendidikan S2 nya berhasil diselesaikan, Estik mendapat dorongan dari sang ayah untuk menjadi bagian dari korps Adhyaksa. Sang ayah meyakini Esti sangat berkompeten untuk menjadi seorang Jaksa daripada seorang dosen. “Bukan berarti ayah saya menilai menjadi dosen itu tak baik ya, tetapi kalau menurut ayah saya, saya lebih kompeten menjadi jaksa,” paparnya.

Pada tahun 2022, Estik masuk menjadi calon Jaksa dan ditempatkan di Kejari Malang. Selama satu tahun setengah berada di Kejari Malang, Estik kemudian mendapat panggilan untuk Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ). “Saat PPPJ itulah saya mendapat peringkat tiga nasional. Akhirnya mendapat reward untuk memilih penempatan di Kejari Perak,” ujarnya.
Estik menjelaskan penilaian sebagai peringkat di dalam PPPJ itu ada tesnya dari mulai skill, kemampuan kepemimpinan dan berbagai indikator lainnya seperti perilaku, kedisiplinan. Dari situ yang masuk 10 besar. maka akan diberikan reward boleh memilih penempatan. Dan Esti memilih Kejari Tanjung Perak.
“Saat itu ada tiga pilihan, Kejari Tangerang Selatan, Kejari Perak dan Kejari Cikarang. Saya lebih memilih Kejari Perak karena yang pertama dekat dengan rumah yakni Madiun. Variasi perkara di Perak bagus, dari segi mental akan terlatih karena di kota besar, iklim penanganan perkara juga tertata dan memang bagus. Perkara pencurian bukan pencurian biasa, tapi ada uniknya seperti perkara pencurian yang viral yang aku tangani kemarin,” ujarnya.
Selama mengemban tugas sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU), Estik merasa menangani perkara pencurian uang tabungan di bank BCA adalah perkara yang sangat berkesan. Sebab perkara tersebut menjadi viral. Bagi Estik, kasus tersebut sederhana, namun karena viral dan akhirnya menjadi atensi pimpinan,” tegasnya. [uci/kun]






