Jember (beritajatim.com) – DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendukung Bupati Hendy Siswanto untuk menetapkan Hari Budaya. Parlemen meminta ada anggaran khusus untuk regenerasi pelaku seni tradisi kebudayaan asli Jember.
“Sebagai penguatan identitas Jember, saya sangat mendukung. Ada beberapa unsur kebudayaan asli Jember yang di ambang kepunahan. Ini harus dieksplorasi dan dibangkitkan kembali,” kata Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi, Minggu (5/3/2023).
Salah satu seni tradisi yang di ambang kepunahan adalah macapat, tembang atau puisi tradisional Jawa. Itqon senang Pemerintah Kabupaten Jember menggelar acara macapat. “Saya kemarin ketemu para seniman macapat. Usianya rata-rata di atas 70 tahun,” katanya.
“Saya berharap kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember agar mengusulkan anggaran ke DPRD untuk regenerasi (seni tradisi). Satu di antaranya regenerasi macapat, untuk pelestarian budaya asli Kabupaten Jember,” kata Itqon.
[berita-terkait number=”4″ tag=”dprd-jember”]
Itqon menilai penguatan identitas ini penting sebagai pembeda Jember dengan daerah lain. “Ada brand. Contohnya ada dua varietas durian yang disertifikasi, yakni Jambearum dan Raung Jambe. Ketika orang menyebut Jambearum, pasti durian itu dari Jember. Itu penting,” katanya.
Sebelumnya, Bupati Hendy Siswanto mencanangkan Hari Budaya Kabupaten Jember, Sabtu (4/3/2023) kemarin. “Tanggal 4 Maret baru pencanangannya. Tanggal (Hari Budaya Jember) belum kami tentukan. Nanti akan kami diskusikan dengan teman-teman akademisi dan budayawan, tentang tepatnya tanggal berapa Hari Budaya di Jember ini. Tapi yang jelas hari ini kami canangkan dan kami akan daftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.
Pencanangan Hari Budaya Jember ini mempertimbangkan banyaknya seni budaya di Jember. “Ini bagian dari merekatkan kehidupan berbangsa dan bernegara. ‘NKRI harga mati’ harus kita tarik dari hulunya lagi: bagaimana kita mencintai budaya-budaya lokal,” kata Hendy. [wir/but]






