Lamongan (beritajatim.com) – Kecamatan Modo yang berada di kawasan selatan Lamongan terbilang unik. Diketahui, banyak prasasti peninggalan sejarah yang berhasil terungkap, mulai dari era kerajaan Airlangga hingga Majapahit. Salah satunya adalah Prasasti Sambangan.
Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Supriyo, selaku pemerhati budaya dari Lamongan. Ia mencatat, ada 8 prasasti kuno yang ditemukan di Kecamatan Modo dari hasil penelitian yang dilakukan.
Bahkan, sambung Supriyo, ada prasasti yang hingga kini masih berada di tempatnya saat pertama kali ditemukan. Terdiri dari Prasasti Sambangan 1 dan Sambangan 2, yang berlokasi di Desa Sambangrejo, Kecamatan Modo.
“Dalam catatan saya, ada 8 peninggalan sejarah yang ditemukan dan tersebar di Kecamatan Modo. Mulai dari lingga-yoni, pecahan keramik kuno, hingga batu prasasti. Termasuk Prasasti Sambangan 1 dan Sambangan 2,” ujar Supriyo, saat dihubungi beritajatim.com, Minggu (5/3/2023).
Supriyo menjelaskan, Prasasti Sambangan 1 dan Sambangan 2 itu ditemukan di kebun jagung milik warga desa setempat. Jarak antar prasasti itu hanya terpaut belasan meter. Supriyo berkata, kondisi prasasti itu saat ini masih terpendam di dalam tanah.
“Atas ditemukannya prasasti ini, bagaimanapun kondisinya hari ini. Modo menyimpan jejak-jejak peradaban yang masa lalu, yang diperkirakan dari masa Airlangga atau dari masa Majapahit,” imbuhnya.

Untuk Prasasti Sambangan 1 sendiri, tutur Supriyo, berada tepat di tengah areal persawahan milik warga Desa Sambangrejo bernama Parlan. Prasasti itu berada di arah timur sendang desa. Menurut Supriyo, Prasasti Sambangan 1 kondisinya kurang terawat dan sebagian badan prasasti terkubur di tanah.
“Bentuk bagian atas Prasasti Sambangan kurawal atau akolade, dengan permukaan yang kasar dan berlubang-lubang dan memiliki ketinggian sekitar 65 cm, lebar 72 cm, ketebalan 14 cm. Prasasti ini berbahan batu putih. Kondisinya tidak terawat dan tulisannya juga sudah tidak terlihat lagi,” bebernya.
Sementara untuk kondisi Prasasti Sambangan 2, papar Supriyo, masih berada di pematang sawah milik Parlan, dengan jarak hanya belasan meter. Sebagian besar badan prasasti masih terkubur di dalam tanah. Sama dengan prasasti Sambangan 1.
“Permukaan prasasti Sambangan 2 kondisinya kasar dan berlubang-lubang sehingga tulisannya sulit dikenali. Tidak terawat. Prasasti ini berketinggian 47 cm, lebar 73 cm, berketebalan 29 cm dan berbahan batu putih,” tuturnya.
Meski Prasasti Sambangan 1 dan Sambangan 2 berhasil ditemukan, Supriyo menyampaikan, belum bisa memastikan apakah kedua prasasti yang ditemukan di wilayah kecamatan yang berjarak lebih kurang 35 km dari Lamongan kota tersebut dari masa yang sama atau dari masa yang berbeda.
“Belum bisa dipastikan, karena pahatan huruf prasasti tidak tampak secara keseluruhan, tapi yang jelas Modo merupakan kawasan penting di masa lalu. Perkiraan kami, Prasasti Sambangan 2 ini berasal dari masa Airlangga, sedangkan Prasasti Sambangan 1 masih belum bisa kami perkirakan,” tandasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”prasasti”]
Secara terpisah, Kades Sambangrejo, Sodiq Mundhofar saat dihubungi pihaknya mengakui jika di desanya ada 2 prasasti yang jaraknya berdekatan. Kedua prasasti itu sudah berada di tempat tersebut sejak lama dan tidak pernah ada warga yang berusaha untuk memindahkannya.
Selain 2 prasasti itu, ditegaskan Sodiq, ada satu sendang di desanya yang dikeramatkan oleh warga setempat. Sendang itu dikenal dengan sebutan Sendang Graman.
“Sejak lama, Sendang Graman ini dikeramatkan. Konon, siapapun yang mandi atau minum dari Sendang ini akan mendapat berkah. Sumber air di Sendang Graman ini juga tak pernah kering meski musim kemarau,” jelasnya. [riq/but]






