Mojokerto (beritajatim.com) – Desa Duyung di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto diresmikan Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati meresmikan sebagai Kampung Durian. Peresmian Kampung Durian ini memperkuat destinasi wisata yang ada di wilayah Kecamatan Trawas.
Baik yang berada di hutan yang dikelola Perhutani maupun di lahan pekarangan milik warga. Peresmian Kampung Durian Desa Duyung ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Bupati perempuan pertama di Kabupaten Mojokerto, Sabtu (4/3/2023).
Dalam kesempatan tersebut orang nomor satu di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto tersebut memberikan santunan jaminan kematian kepada tiga warga Desa Duyung yang berstatus pekerja bukan penerima upah. Masing-masing menerima jaminan kematian senilai Rp42 juta.
BACA JUGA:
Waktunya Mencicipi Pahit Legitnya Durian Merico Trawas Mojokerto
Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati mengatakan, buah durian di desa Duyung menjadi potensi yang luar biasa dalam pengembangan wisata desa. Saat ini, ada ratusan hektare tanaman durian yang bisa dipanen setiap tahun baik di lahan milik penduduk maupun di lahan milik perhutani yang semuanya juga dikelola penduduk.
“Ini adalah suatu hal yang perlu disyukuri. ini perlu dipertahankan agar durian ini menjadi komoditi yang diandalkan oleh Desa Duyung. Tidak perlu wisata yang aneh-aneh. Cukup durian ini saja. Tinggal bagaimana kita tarik wisatawan dari luar untuk menikmati durian di sini,” ungkapnya.
Bupati berharap melalui Kampung Durian tersebut Desa Duyung bisa menjadi sentra produksi durian dan pengolahan produk berbahan durian. Sehingga diharapkan melalui durian bisa mensejahterakan seluruh masyarakat Desa Duyung.
BACA JUGA:
Tahun 2023, Bupati Mojokerto Berharap Desa di Kecamatan Trawas Jadi Desa Mandiri
“Untuk itu tugas kita adalah bagaimana durian ini secara utuh memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dari buahnya, isinya maupun kulit. Kalau bisa kulitnya juga bisa kita olah menjadi sesuatu yang berharga,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Duyung, Juniarto Bambang S mengatakan, tingginya permintaan durian membuat perputaran ekonomi di desa dengan dua dusun tersebut mengalami peningkatan. Bahkan per harinya bisa capai Rp3 juta per rumah, khususnya di musim durian.
“Setiap hari kampung ini dipenuhi deretan mobil mewah selalu berjajar parkir di depan rumah warga. Per hari per rumah bisa jual 100 biji lebih. Jika dirata-rata harganya Rp25-30 ribu, maka per rumah bisa capai Rp2-3 juta per hari. Artinya dalam musim durian ini perputaran ekonomi di Desa Duyung bisa mencapai ratusan juta,” terangnya. [tin/suf]






