Jember (beritajatim.com) – Bumdesma (Badan usaha milik desa bersama) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, akan menjadi raksasa atau institusi ekonomi yang luar biasa di akar rumput. Namun Bumdesma harus berhati-hati dalam berinvestasi.
Bupati Hendy Siswanto mengatakan, bumdesma bisa melakukan banyak aktivitas bisnis. “Pemkab Jember akan memproduksi pupuk organik. Bumdesma bisa membagikannya ke para petani. Bisa melakukan pengadaan beras, memenuhi kebutuhan masyarakat, membuat usaha katering, berjualan kopi, ekspor pun bisa,” katanya, ditulis Sabtu (25/2/2023).
Namun Hendy meminta bumdesma agar menahan diri saat hendak bertransaksi dengan nominal besar. “Putaran keuangan kita agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena masalah ekonomi global,” katanya.
“Sepertiga negara di dunia ini sudah jadi pasien IMF (Dana Moneter Internasional). Ekonomi Indonesia aman, tapi pertumbuhannya landai. Kita tetap harus hati-hati dalam investasi,” kata Hendy.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-jember”]
Dengan aset mencapai Rp 112 miliar, bumdesma pasti akan terpengaruh ekonomi global. “Bumdesma ini mainnya kelas menengah ke atas, tapi pelayanannya untuk kelas menengah ke bawah. Harus hati-hati. Main (bisnis) kecil-kecil saja. Melayani. Simpan pinjam dijalankan. Jangan punya buffer stock banyak-banyak. Jual beras, jual kopi, jual pupuk. Buffer stock maksimal 10 persen dari transaksi berjalan,” kata Hendy.
Hendy mengingatkan bumdesma agar tidak mencari untung terlalu besar. “Kalau untungnya kebanyakan, tidak ada yang beli. Kalau tidak laku, repot, nanti pusing. Ganti pengurus, rusak semua, bertengkar lagi. Kembali lagi,” katanya.
Bumdesma juga disarankan tidak terburu-buru membeli aset tanah untuk kantor. “Uang itu jangan dimatikan (tidak berputar untuk kegiatan ekonomi, red). Begitu dibelikan aset, uangnya mati. Tidak berkembang. Tidak mungkin tanah dijual lagi,” kata Hendy.
“Jangan beli aset tetap sekarang. Saya bukannya melarang beli, tapi jangan sekarang. Begitu beli, take over-nya susah. Mending uang yang ada diputar cepat,” kata Hendy.
“Mending bumdesma berkolaborasi. Kalau tidak punya mobil, kerja sama saja dengan yang punya mobil. Tidak punya sepeda motor, tidak usah beli. Kerja sama saja dengan ojek, minta diskon yang banyak untuk pengiriman. Lakukan kolaborasi. Jadi jangan membeli aset tetap yang tak bisa berkembang,” kata Hendy.
Bumdesma disarankan bekerja sama dengan Pemkab Jember untuk pengadaan kantor. “Pemkab Jember punya aset banyak. Pakai saja. Nanti kita hitung, bagaimana sewanya. Bisa dibicarakan semua. Pemkab Jember juga punya kantor yang kosong. Mari bekerja sama. Sewa, atau pinjam pakai dulu, kalau untung baru dibayar. Bisa diatur,” kata Hendy.
Hendy menekankan komitmen pemerintah daerah untuk membantu bumdesma melalui peminjaman lahan. Pemkab Jember akan membuat regulasi yang melindungi proses kerja sama itu secara hukum. Kejaksaan dan kepolisian akan diajak bicara. “Kita perlu kolaborasi yang tidak melanggar aturan. Selama kita sesuai regulasi, kita lakukan bersama-sama,” katanya.
Jika tak ingin bekerja sama dengan Pemkab Jember, bumdesma bisa bekerja sama dengan pihak swasta seperti pengembang perumahan. “Rumah yang kosong dipakai dulu. Nanti bayarnya kalau sudah untung,” kata Hendy.
Hendy juga menyarankan bumdesma untuk menjual produksi lokal desa setempat. “Ada 248 kearifan lokal (produk unggulan lokal, red). Coba itu diambil alih bumdesma. Kami bisa membeli lewat e-katalog. Kalau bentuknya barang, daftarkan ke e-katalog lokal. Nanti APBD Jember, kan sudah dilakukan rasionalisasi, nanti untuk membeli barang itu,” katanya.
Komoditas yang dijual bumdesma lewat katalog elektronik bisa mendukung program pemerintah daerah. “Misalkan telur. Kami sedang melakukan perbaikan stunting, penurunan angka kematian ibu dan bayi, perbaikan gizi. Kami juga sedang membagikan sembako. Barangnya bisa kami beli lewat bumdesma. Tidak usah tender, langsung beli. Biar rata, kita beli ke bumdesma satu-satu,” kata Hendy.
Komoditas yang dibeli dari bumdesma nantinya akan dikembalikan kepada masyarakat. “Jember sekarang ada problem stunting dan gizi. Kami akan tangani kemiskinan ekstrem. Bagaimana pada 2024 tak boleh ada kemiskinan ekstrem di Jember. Kemiskinan jangan banyak-banyak,” kata Hendy.
Hendy meminta kepada Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah mengajari bumdesma agar bisa masuk ke katalog elektronik. “Tidak mungkin kami membiarkan bumdesma. Kami punya keyakinan dengan bumdesma, Jember bisa terbantu. Apalagi ada 86 ribu anggota bumdesma. Saya akan dukung habis,” katanya.
“Daya beli masyarakat Jember harus dipertahankan. Dengan kami mendukung bumdesma, seperempat dari warga Kabupaten Jember ini aman. Kalau seperempat aman, uangnya berputar cepat, insya Allah Jember aman. Bumdesma ini mendorong perekonomian di Jember,” kata Hendy. [wir/kun]






