Malang (beritajatim.com) – Keluarga korban tragedi Kanjuruhan Malang mengutamakan penggunaan dana bantuan yang diterima untuk biaya pendidikan. Sebagian penerima bantuan mengaku, sengaja tidak mengambil atau dibiarkan di rekening karena dengan alasan untuk biaya pendidikan di jenjang selanjutnya.
“Kami kumpul-kumpulkan. Saya ingin mengantarkan adiknya ini seperti almarhum kakaknya,” ungkap Wiyono, orang tua korban Tragedi Kanjuruhan yang tinggal di Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jumat (24/2/2023).
Wiyono merupakan ayah dari almarhum Vera Puspita Ayu (22), seorang perawat yang turut menjadi korban meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan. Almarhumah merupakan anak pertamanya yang saat itu baru beberapa bulan bekerja setelah lulus kuliah, bahkan berencana hendak menikah.
Sehari-hari, Wiyono bekerja sebagai penjual jamu. Ia mengaku bersyukur dan berterimakasih atas bantuan beasiswa pendidikan bagi anak keduanya, Naura Rahma Amelia (16).
Naura juga merupakan korban dalam peristiwa 1 Oktober 2022 itu. Karena turut menonton langsung pertandingan Arema FC VS Persebaya di Stadion Kanjuruhan. Bahkan bocah yang masih Kelas 3 SMP saat itu bersama teman-temannya membawa jenazah kakaknya pulang dari rumah sakit.
“Saya inginnya nanti bisa ambil jurusan kedokteran,” tegas Naura yang kini duduk di Kelas 1 SMA di Kota Malang itu.
Hal serupa juga dikatakan Istiani, warga Wagir, Kabupaten Malang. Istiani masih menyimpan sementara uang beasiswa anaknya, Rafka Aufar Saufandi (10). Uang tersebut rencana untuk biaya sekolah anaknya ke SMP, walaupun saat ini masih duduk di kelas 4 SD. Istiani merupakan ibu dari korban tragedi Kanjuruhan yang meninggal dunia atas nama almarhum Haviska Dwi Anindita (12).
“Tapi ini anaknya minta sunat (khitan). Dikumpulkan dulu untuk sunat juga nanti. Tapi nunggu pendak kakaknya (ganti tahun setelah kakaknya meninggal dinia),” tegas Istiani.
Begitupun Supranowo, warga Wagir, Kabupaten Malang yang mengaku mengambil sebagian uang bea siswa putrinya, Naysya Dwi Anindita (12). Supranowo merupakan ayah dari korban Tragedi Kanjuruhan almarhum Clarita Discha Nopiah Putri.
“Kemarin sebagian diambil untuk membayar LKS,” tuturnya.
Sebanyak 38 anak dari keluarga penyintas Tragedi Kanjuruhan mendapatkan beasiswa pendidikan dari Perempuan Golkar Bersatu. Para penerima merupakan hasil assesmen dan mendapat pendampingan dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur.
Beasiswa ditransfer ke rekening penerima sebesar Rp 275 ribu setiap bulan selama tiga tahun.
“Mereka ini terdampak baik langsung maupun tidak langsung dari tragedi Kanjuruhan. Ini sudah berjalan tiga bulan. Uang diserahkan bertahap atau setiap bulan dan untuk kepentingan pendidikannya,” ujar Anwar Sholihin, Ketua LPA Jawa Timur, Jumat (24/2/2023).
Dari 38 anak tersebut, 17 anak berasal dari Kota Malang dan 21 anak dari Kabupaten Malang. Mereka duduk di bangku pendidikan dari pra sekolah hingga mahasiswa.
Hari ini secara perwakilan, sebanyak delapan anak dan delapan orang tua mendapatkan kunjungan guna kepentingan monitoring program. Kegiatan monitoring sekaligus kunjungan dilakukan di Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
“Kita ingin mencapai tujuan dan sasaran yang kita harapkan betul-betul bermanfaat buat anak-anak. Karena itu kami memang harus menggandeng pihak lain, termasuk LPA, BRI di sini,” tambah Nurul Arifin, pengurus Perempuan Golkar Bersatu.
Nurul Arifin yang juga Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar ini menambahkan, beasiswa tersebut murni sebagai bakti sosial dan kepedulian Perempuan Golkar Bersatu terhadap persoalan bencana di Tanah Air.
Donasi dikumpulkan oleh Yanti Erlangga selaku Ketua Umum Perempuan Golkar Bersatu, dari sejumlah kalangan di Jakarta. Sebelumnya istri Ketua Umum Golkar Erlangga Hartarto itu pada November lalu telah ke Malang dan menyapa langsung para penerima beasiswa.
“Terpenting anak-anak yang terkena dampak ini bisa sekolah kembali atau tetap sekolah, bisa terjamin walaupun tidak terjamin keseluruhan. Tapi angka 38 ini sesuai dengan anggaran yang terkumpul,” tegas Nurul didampingi Ketua Bidang Sosial Perempuan Golkar Bersatu, Nita Aziz. [yog/but]






