Jember (beritajatim.com) – Potensi sampah anorganik di Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk dibuat refuse derived fuel atau RDF cukup besar. RDF adalah bahan bakar yang berasal dari sampah anorganik yang mudah terbakar dan memiliki nilai kalor tinggi, seperti plastik, kertas, kain, dan karet atau kulit.
Potensi itu bisa dilihat dari jumlah timbunan sampah yang ditangani Pemerintah Kabupaten Jember yang senantiasa meningkat. Sampah yang bisa ditangani pada 2021 meningkat 34,5 persen dari 462,95 ribu ton jumlah sampah atau setara dengan 159.71 ribu ton. Sementara pada 2020 timbunan sampah yang dapat ditangani 11,8 persen dari 447.24 ribu ton sampah atau 52.75 ribu ton. Saat ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jember Sugiarto memperkirakan, masyarakat Jember memproduksi 1.200 ton sampah setiap hari.
“Cuma masalahnya, nilai investasi RDF lumayan fantastis. Penghitungan kami, kalau kita bisa memproduksi 100 ton per hari, maka dibutuhkan Rp 92-95 miliar,” kata Sugiarto, ditulis Selasa (21/2/2023).
[berita-terkait number=”3″ tag=”jember”]
Nominal hampir Rp 100 miliar itu terlampau besar untuk Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jember. Anggaran di sejumlah sektor bisa tersedot. Maka kuncinya adalah investor. Kami berupaya mencari pihak ketiga sebagai investor untuk membantu penanganan sampah di Jember,” kata Sugiarto.
Pasar untuk pemakaian RDF sudah tersedia di Jember, salah satunya pabrik semen PT Imasco di Kecamatan Puger. “PT Imasco (pabrik semen di Puger) setiap hari membutuhkan 250 ton bahan bakar. Selama ini masih pakai batu bara. Batu bara ini bisa kita substitusi dengan RDF,” kata Sugiarto. [wir/ted]






