Jember (beritajatim.com) – Tingkat kesadaran masyarakat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terhadap penanganan sampah masih rendah. Anak diharapkan menjadi kunci perubahan kultur masyarakat di Jember agar mau lebih peduli terhadap sampah.
“Di sungai-sungai kita, sampah banyak. Padahal di satu sisi, kita sudah punya pegiat yang mengelola pampers (popok dari kertas) menjadi kerajinan, dan itu butuh bahan. Tapi ternyata bahannya ada di sungai dan tidak sampai ke mereka. Artinya ini butuh perantara untuk menjadi sesuatu yang bernilai,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jember Sugiarto, ditulis Senin (21/2/2023).
Sugiarto prihatin, kendati pemerintah sudah menyediakan kotak sampah di pusat-pusat keramaian seperti alun-alun, masyarakat lebih senang membuang sampah di sampingnya dan bukannya membuang ke dalamnya.
Sugiato pernah meminta para pegawai DLH untuk menimbang sampah usai pergelaran Jember Fashion Carnaval. “Mereka bekerja sampai jam setengah empat pagi. Ternyata dalam satu malam itu, sampahnya 4,1 ton. Padahal kalau kita lihat, siapa sih yang senang dengan fashion? Masyarakat kota yang berpendidikan,” katanya.
Dengan kesadaran masyarakat yang minim, Sugiarto menegaskan perlunya agen perubahan. “Yang bisa mengubah diri kita dan keluarga kita, yang paling mudah masuk dan tidak menimbulkan konflik adalah anak-anak kita. Anak adalah agen perubahan luar biasa,” katanya.
DLH kemudian menggandeng Himpunan Pegiat Adiwiyata Indonesia Jember untuk mengedukasi sekolah. “Sekarang kami ada gerakan agar sekolah-sekolah mengikuti gerakan adiwiyata. Dalam sekolah adiwiyata tersebut ada gerakan berbudaya lingkungan hidup. Jadi kita menanamkan budaya lingkungan hidup dan sadar lingkungan dari sekolah,” kata Sugiarto.
[berita-terkait number=”3″ tag=”jember”]
Para siswa ini diharapkan saat kembali ke rumah bisa menjadi agen perubahan di lingkungan dan keluarga. “Karena di situlah asal-muasal masalah sampah ini: dari keluarga. Bukan dari lainnya,” kata Sugiarto.
Satib, anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Jember dan Lumajang, setuju menjadikan sekolah sebagai bagian oenting dari gerakan peduli sampah. Dia memuji SMK Negeri 1 Jember yang mengurangi sampah dengan menganjurkan siswa agar membawa kantong untuk diisi sampah saat berkegiatan di sekolah.
“Kalau kantong yang dibawa masih plastik, bisa diarahkan pakai kantong ramah lingkungan. Ini kaitan dengan replace, yakni mengganti kantong berbahan sekali pakai dengan bahan yang bisa dipakai berkali-kali,” kata Satib. [wir/ted]






