Pasuruan (beritajatim.com) – Sandal dan helm berbaris rapi dari depan hingga belakang. Saling menyambung tanpa celah.
Sementara, terlihat emak-emak dan bapak-bapak duduk-duduk santai. Posisi mereka persis di samping sandal dan helm itu.
Rupanya, sandal dan helm itu sengaja disusun demikian. Tujuannya, sebagai penanda antrean beras murah di Kota Pasuruan.
Harga beras hingga Kamis (16/2/2023) belum juga turun. Kondisi ini membuat warga Kota Pasuruan rela antre di GOR Untung Suropati, Kota Pasuruan demi mendapatkan beras dengan harga miring.
Biar tak kepanasan, sebagian orang punya inisiatif yang cukup cerdas. Mereka meninggalkan sandal atau helm guna menggantikan antreannya.
Sedangkan warga sendiri memilih berteduh di bawah pohon. Antrean tetap aman, tak ada yang menyerobot apalagi mendorong.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pasuruan”]
Seperti halnya Kholila, warga Jalan Diponegoro, Kota Pasuruan. Dia memasang sandalnya dalam barisan antrean tersebut.
“Saya dapat nomor urut dua, tapi stok berasnya habis jadi harus nunggu,” jelas Kholila.
Tak hanya Kholila, Rukhaya, warga Kelurahan Tapaan, Kota Pasuruan juga rela datang lebih awal. Di hari sebelumnya, dia sudah mengantre tapi tak kebagian jatah beras murah.
Hari ini, dia kembali ke lokasi lebih awal. Harapannya, dia bisa kebagian beras lantaran stoknya di rumah sudah habis.
“Kemarin sudah antre sampai siang tapi gak dapat stok berasnya karna habis. Jadi sekarang berangkat lebih awal, semoga dapat hari ini,” jelas Rukyah.
Diketahui, beras yang dijual di GOR Untung Suropati ini hanya berharga Rp43 ribu per 5 kilogram. Sedangkan beras yang dijual dipasaran sampai saat ini masih berkisar Rp60 per 5 kilogram, bahkan ada juga yang lebih.
Sementara itu, Eva Kurnia, petugas perdagang Disperindag Kota Pasuruan menyatakan, Bulog menyalurkan sebanyak 4 ton beras murah di GOR Untung Suropati.
“Tadi warga inisiatif sendiri antri pakai sandal dan helm,” pungkasnya.
Antrean beras murah kini tengah jadi fenomena umum di sejumlah daerah di Indonesia. Padahal, negeri ini terkenal sebagai produsen beras namun rakyatnya masih harus antre demi mendapatkan bahan pangan pokok itu. [ada/beq]






