Surabaya (beritajatim.com) – WHO baru-baru ini menyatakan penyakit Marburg sebagai epidemi setelah menginfeksi beberapa orang di Afrika tengah.
Penyakit Marburg memiliki gejala-gejala tertentu bagi penderitanya. Benarkah mirip dengan virus Covid-19 yang menjadi pandemi beberapa tahun terakhir ini?
Melansir CDC dan WHO, berikut ini adalah beberapa hal yang harus diketahui tentang penyakit ini.
1. Apa itu virus atau penyakit Marburg?
Penyakit Marburg telah dinyatakan sebagai epidemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini pada Rabu (15/2).
Guinea Equatorial mencatat virus Marburg, yang disebut sangat menular dan mematikan seperti virus Ebola. Virus ini sendiri telah merenggut sembilan nyawa di Guinea Khatulistiwa, sebuah negara di Afrika Tengah.
Sejauh ini, 16 kasus dugaan penyakit Marburg telah terdeteksi di Guinea Khatulistiwa. Hampir 200 orang telah diminta untuk karantina untuk menahan penyebaran virus.
Meskipun ada wabah sebelumnya dan kasus terisolasi di wilayah lain di Afrika, termasuk Angola, Republik Demokratik Kongo, Guinea, Kenya, Afrika Selatan, dan Uganda, ini adalah wabah Marburg pertama di negara itu. Namun, virus ini diyakini sangat menular, oleh karena itu kita perlu mengetahui bagaimana karakteristik penyakit ini, terutama gejalanya.
2. Penyebaran virus Marburg
Penyakit Marburg adalah penyakit yang ditularkan oleh kelelawar buah yang menyebar ke manusia melalui kontak langsung dengan cairan atau sentuhan dengan tubuh yang terinfeksi. Virus ini tergolong penyakit yang sangat menular dan memiliki rasio kematian hingga 88 persen.
Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS, Marburg adalah virus jenis demam berdarah langka yang dapat membahayakan organ tubuh dan mengakibatkan pendarahan. Virus ini juga dikategorikan sebagai zoonosis, yang mana bersama dengan enam spesies virus Ebola, membentuk keluarga filovirus.
Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1967 setelah menjadi wabah di laboratorium daerah Marburg, Jerman, Beograd, dan Serbia. Sebanyak 7 orang meninggal akibat terpapar virus ini saat melakukan penelitian terhadap monyet.
[berita-terkait number=”5″ tag=”penyakit”]
3. Gejala virus Marburg
Beberapa gejala umum yang terlihat pada kasus yang terdeteksi di Guinea Khatulistiwa meliputi demam, diare, kelelahan, dan muntah. Sesuai keterangan CDC, masa inkubasi penyakit ini adalah 2-21 hari dengan gejalanya yang meliputi:
– Demam
– Panas dingin
– Sakit kepala
– Myalgia (nyeri otot)
Beberapa gejala juga mungkin muncul setelah timbulnya tanda awal penyakit, yang meliputi:
– Timbul ruam di sekitar punggung atau perut
– Mual
– Muntah
– Nyeri dada
– Sakit tenggorokan
– Sakit perut
– Diare
Ketika virus ini sudah berkembang, maka dapat menyebabkan gejala yang parah seperti:
– Penurunan berat badan yang drastis
– Shock
– Gagal hati
– Penyakit kuning
– Igauan
– Pendarahan
– Kegagalan multi-organ
4. Bagaimana cara mengobati Marburg?
Saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan yang tersedia untuk melindungi orang dari virus Marburg. Namun, otoritas kesehatan dapat menggunakan perawatan seperti rehidrasi dengan cairan oral atau intravena, yang dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup.
Untuk mendukung upaya tanggap nasional dan memastikan kolaborasi masyarakat dalam pengendalian wabah, WHO mengirimkan pakar di bidang epidemiologi, manajemen kasus, pencegahan infeksi, laboratorium, dan komunikasi risiko di negara dengan resiko tinggi penularan. (kai/ian)






