Bojonegoro (beritajatim.com) – Puluhan burung murai menjalani pendidikan di sekolah burung. Sekolah burung yang ada di Kabupaten Bojonegoro ini mendidik burung agar lebih kuat mental dan pengisian materi yang lebih beragam.
Salah seorang perawat harian sekolah burung Johan’s Academy yang ada di Gang Wates RT 10 RW 02 Kelurahan Kepatihan Kabupaten Bojonegoro, Singgih mengatakan, sejak dua tahun berdiri (2020) sudah banyak burung murai yang diwisuda.
“Lulusan di sekolah burung ini juga ada yang menjadi juara perlombaan piala raja di Yogjakarta yang menjadi perlombaan paling tinggi,” ujarnya, Selasa (14/02/2023).
Menurut Singgih, selama menjalani pendidikan, burung-burung tersebut dilatih untuk lebih kuat mental. Beberapa terapi yang dilakukan dengan membiarkan antarburung berinteraksi secara langsung. Sehingga tidak ada sekat antara sarang burung satu dengan lainnya.
“Menguatkan mental dulu, dengan cara tidak boleh dimanja, ditepuktangani, maupun dikerodong. Karena itu nanti membuat burung manja. Dibiarkan berinteraksi dengan burung lain,” lanjutnya.
Setelah mental burung murai tersebut terbentuk kemudian akan dilakukan terapi agar insting liarnya keluar. Baru kemudian pendidikan terakhir yang diterapkan adalah pengisian materi. Pengisian materi burung ini menggunakan burung master maupun rekaman suara.
“Untuk masalah perawatan standar tapi tidak pernah pakai pakem, tergantung kondisi burung. Burung murai ini tidak bisa dipaksa untuk mandi, tapi biasanya kalau sudah main air sudah seperti mandi,” terangnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”komunitas”]
Sekolah burung di Bojonegoro ini hanya menerima murid yang sudah bisa makan sendiri (trotol). Sedangkan untuk lama sekolah sendiri tergantung owner. Namun, jika dirasa perkembangan burung tersebut cepat menangkap materi maka akan lebih cepat dinyatakan lulus.
Sementara untuk biaya pendidikan sekolah burung sendiri dipatok harga Rp350 ribu per bulan. Jumlah tersebut sudah termasuk biaya perawatan maupun pakan selama menjalani pendidikan. Saat ini, jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut ada puluhan.
Siswanya pun tidak hanya dari Bojonegoro tetapi banyak dari luar daerah. Seperti Sumatera, Bali, Sulawesi, hingga Jakarta. [lus/but]






