Ngawi (beritajatim.com) – Tak hanya dihantui wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), peternak di Ngawi perlu mewaspadai penyakit lumpy skin disease (LSD) yang juga menjangkiti sapi. Kini sudah ada 50 ekor sapi di Ngawi yang terjangkit LSD.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Ngawi drh. Sri Wahyuni Budi Utami mengungkapkan jika penyakit LSD diketahui menyebar di wilayah Ngawi Sejak awal Januari 2023.
“Awal diketahui muncul di wilayah kecamatan Sine. Ada beberapa hewan ternak yang terjangkit LSD,” terang Sri Wahyuni, Rabu (01/02/2023)
Berawal dari laporan pemilik ternak yang mengeluhkan sepinya sakit dan tak kunjung sembuh. Setelah dicek dari petugas DPP ada dugaan terjangkit LSD. Gejalanya yakni hewan ternak mengalami bentol, terasa gatal, dan demam. Kulitnya rusak. Petugas pun mengambil sampel dan dibawa ke Balai Besar Veteriner (BBVET) di Wates Yogyakarta.
“Ternyata benar sapi-sapi itu terjangkit LSD. Hasil tesnya menunjukkan kalau sapi-sapi ini positif terjangkit LSD. Dan sampai kini sudah ada 50 ekor yang terjangkit,” lanjut Wahyuni.
[berita-terkait number=”3″ tag=”virus-lumpy-skin-disease”]
Wahyuni membeberkan penyebaran LSD sudah meluas hingga Kecamatan Jogorogo dan Pangkur. Penularannya cepat yakni lewat kontak langsung antar kulit hewan, melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, dan susu, juga ditularkan serangga penghisap darah seperti nyamuk dan kutu.
“Meski begitu, belum ada hewan yang terjangkit LSD mati. Penyakit LSD ini membutuhkan waktu proses pengobatan. Jadi, akan butuh waktu lama untuk penyembuhan,’’ ujarnya.
Wahyuni mengatakan pihaknya juga memberikan vitamin, obat pereda radang, serta obat untuk mengurangi demam serta pemberian obat antibiotik. Juga, dilakukan penyemprotan desinfektan pada kandang dan dilakukan isolasi dari hewan ternak yang lain agar tidak menular yang lain. “Vaksinasi LSD kemungkinan Februari ini,” katanya. (fiq/ted)






