Surabaya (beritajatim.com) – Saat ini kajian filosofis tentang seni telah berakhir. Ini terjadi bukan karena praktik-praktik seni semakin kompleks dan seni berubah menjadi filsafat. Namun karena seni telah dibebaskan dari penindasan filosofis.
Pandangan Arthur C Danto itu disampaikan oleh Afrizal Malna dalam Kuliah Umum bertema Pandemi Sejarah dan Paska-Masa Depan, yang diselenggarakan Falkultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Senin (30/1/2023). Afrizal merujuk pada tulisan Arthur Danto dalam “The End Of Art: A Philosophical Defense”, History and Theory, Vol. 37. No. 4, 1998, Blackwell Publising for Wesleyan University.
Berakhirnya seni berpijak dari karya Andi Warhol yang menghadirkan kotak “Brillo Box (Soap Pads)”, di Stable Gallery, New York, tahun 1964. Pada pameran itu, Andi Warhol menata kotak Brillo secara hampir sama persis dengan yang biasa ditemu di supermarket.
“Kotak Brillo menandai bahwa pertanyaan “apa itu seni” dalam kajian filosofis telah berakhir. Ini terjadi bukan karena praktik-praktik seni semakin kompleks, dan seni berubah menjadi filsafat. Namun karena seni telah dibebaskan dari penindasan filosofis,” kata Afrizal Malna.
Sastrawan yang sekarang berdomisili di Sidoarjo itu menerangkan, estetika kontemporer telah melakukan pemotongan sejarah sebagai metode masa depan. “Metode ini membuat masadepan tidak lagi dilihat sebagai konsep waktu, melainkan sebuah tindakan untuk konsep ruang yang melibatkan kemudian menata entitas-entitas penting yang menopang kehidupan dari kura-kura hingga racun,” papar Afrizal Malna.
Menurut Afrizal Malna, pemotongan sejarah sangat mungkin pula terjadi di Indonesia. Hal itu merujuk pada serangkaian peristiwa sejak era Mataram Kuno, era kolonial Belanda, perang kemerdekaan. Baginya, estetika kontemporer semacam reaksi atas pandemi sejarah.

“Pandemi sejarah merujuk pada sejumlah fragmentasi: banyak kehilangan benang merah sejarah, kebingungan memposisikan diri dalam konteks masakini dan masalalu, terperangkap melihat orang lain sebagai “orang asing”, kompleksitas hubungan antar sub-kultur, terputusnya hubungan dengan pengetahuan masalalu: Kedekatan pada aspek tertentu, menyimpan banyak patahan di dalamnya,” kata Afrizal.
Apakah pemotongan sejarah sama seperti merusak masa silam? Ternyata menurut Afrizal bukan seperti itu. “Dia bukan merusak masalalu, namun memperbarui masalalu,” kata penyair yang sekaligus anggota Akademi Jakarta tersebut.
Sementara itu, dalam sambutannya, Dekan FIB Unair Prof. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum menyampaikan bahwa kegiatan Kuliah Umum ini dalam rangka kick off dimulainya perkuliahan semester genap tahun ajaran 2022/ 2023.
“Tujuannya memberikan informasi pengetahuan kepada mahasiswa terkait dengan bagaimana masa depan itu dikelola melalui pembelajaran pada masa lalu. Kata mas Afrizal, masa depan itu ilusi, maka harus diciptakan. Bahwa ruang kreativitas itulah yang akan menciptakan sejarah,” kata Prof Basundoro.
[berita-terkait number=”3″ tag=”unair”]
Sedangkan Wakil Dekan I FIB Unair Dr. Listiyono Santoso, S.S., M.Hum menyatakan, Kuliah Umum yang digelar FIB Unair ternyata mendapat respon antusias dari mahasiswa. Ada kesadaran dari mahasiswa untuk mengupdate pengetahuan dan wawasan.
“Kuliah Umum ini diikuti oleh sebagian besar mahasiswa di FIB semua jurusan, kira-kira yang hadir 500 peserta. Memang tujuannya agar mereka mendapatkan informasi dari budayawan tingkat nasional, sehingga mereka punya pemahaman bahwa kajian keilmuan kebudayaan itu memiliki peran penting dalam menatap masa depan,” katanya. [but]






