Sidoarjo (beritajatim.com) – Di Kota Sidoarjo ada sebuah kawasan bernama Lemah Putro. Usia kawasan ini ternyata sudah cukup lama, bahkan lebih dari seratus tahun.
Demikian diungkapkan oleh dr. Sudi Harjanto, pegiat Komunitas Sidoarjo Masa Kuno. “Kawasan ini sudah eksis di peta tahun 1892,” kata dr Sudi, Rabu (25/1/2023).
Dipaparkan oleh dokter nyentrik yang gemar naik Vespa itu, Lemah Putro termasuk kawasan yang dilewati jalan Daendels atau Post Weg. Hunian dan aktivitas masyarakat di Lemah Putro Sidoarjo juga cukup padat.

Terkait nama Lemah Putro, dr Sudi menduga berasal dari dominasi aktivitas masyarakat yang mayoritas laki-laki. Hal itu ditunjang oleh cerita kuno yang berkembang di masyarakat.
“Berdasar cerita tutur, nama ini dikarenakan kawasan tersebut tempat berkumpulnya para lelaki, yaitu para kuli, para nelayan, dan pedagang, yang hampir semua lelaki,” kata dr Sudi.

Selain untuk aktivitas perdagangan, Lemah Putro dan sekitarnya juga menjadi kawasan hunian. Fakta itu diperkuat dengan keterkaitan nama-nama lokasi atau toponimi.
“Para kuli angkut pelabuhan di sekitaran Babahlayar. Juga dekat dengan kawasan Maden, tempat istirahat dan nginep para nelayan, yang kelak dikenal dengan nama Kwadengan. Dan tidak jauh dari Slautan, kawasan mula menuju laut,” papar dr Sudi secara panjang lebar.
[berita-terkait number=”3″ tag=”sejarah”]
Namun ternyata ada cerita lain yang juga terkait dengan kawasan Lemah Putro Sidoarjo. Di situ bukan hanya hunian pekerja atau nelayan.
“Cerita lain, mengisahkan bahwa kawasan itu adalah kawasan lungguh anak-anak para bangsawan, bupati, wedana,” kata dr Sudi. [but]






