Blitar (beritajatim.com) – Keberadaan rumah pecinan di Kota Blitar semakin hari semakin sedikit jumlahnya. Dari puluhan rumah di kawasan Pecinan, mungkin saat ini yang tersisa hanya hitungan jari.
Salah satunya adalah rumah milik Daniel di Jalan Merdeka Nomor 166, Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar. Rumah ini merupakan salah satu yang tertua di kawasan pecinan Kota Blitar.
Rumah yang memiliki luas 150 meter persegi ini pun sudah berusia 200 tahun lebih. Rumah itu pun sudah berganti kepemilikan secara turun-temurun sebanyak 6 generasi.
Bangunannya masih dipertahankan seperti dulu kala oleh sang pemilik. Daniel sendiri merupakan generasi ke-6 yang menempati rumah tersebut.
Menurut Daniel rumahnya memiliki arsitektur Jawa-Thionghoa. Bagian atap bangunan mengadopsi rumah joglo sedangkan bagian pintu dan dalam bangunan menggunakan arsitektur Tionghoa yang mirip dengan Klenteng Poo An Kiong Kota Blitar.

“Yang paling mirip dengan Klenteng ya pintu ini mas, dulu sebelum dicat ulang ada lukisan dewa penjaga mirip di klenteng itu, karena dari cerita eyang saya memang rumah ini ada nggak berselang jauh dengan berdirinya Klenteng Poo An Kiong Kota Blitar,” kata Daniel, pemilik rumah kapada beritajatim.com, Senin (23/1/2023).
Rumah berusia 200 tahun ini memiliki ciri khas pintu besar berukuran tinggi 2 meter lebih yang sangat mirip dengan Klenteng. Di pintu tersebut juga terdapat sebuah lukisan dewa penjaga, sebelum hilang tertutup oleh cat baru.
Pintu ini pun juga masih menggunakan sistem kunci seperti jaman dulu yakni menggunakan balok kayu besar sebagai penguncinya.
Bagian tengah rumah terdapat Soko atau tiang yang berjumlah 4 yang bisa terdapat di bangun joglo atau Klenteng. Ukiran-ukiran bermotif Tionghoa juga masih nampak jelas di bagian kayu yang berada diatas tiang penyangga.
[berita-terkait number=”3″ tag=”imlek”]
Yang lebih unik, bangunan rumah ini hanya memiliki tembok di bagian kiri dan kanan saja. Sementara untuk bagian depan dan belakang menggunakan papan sebagai penutupnya.
Bangunan ini pun tidak menggunakan besi untuk dasar bangunan atau pondasi bangunan. Namun begitu kekuatan dari rumah ini sudah teruji, diterpa beberapa gempa besar yang melanda Blitar, rumah yang telah berusia 200 tahun ini tetap kokoh berdiri.
“Ini tidak ada besinya untuk pondasi, tembok juga hanya ada di bagian samping saja, ukiran-ukiran juga masih nampak jelas di bagian kayu tengah ruang,” imbuhnya.
Meski telah berusia 200 tahun namun rumah ini belum sekalipun dilakukan renovasi atau pembugaran. Namun demikian kerangka kayu dari rumah ini masih sangat kokoh terpasang.

Sang pemilik sengaja memilih mempertahankan kontruksi rumah karena nilai historisnya. Selain itu, sang pemilik ingin tetap mempertahankan kontruksi rumahnya di tengah banyak rumah di kawasan pecinan Kota Blitar dibongkar atau dijual.
“Kalau saya tidak berniat melakukan pembugaran rumah sebisa mungkin saya akan pertahankan kontruksi rumah ini, karena nilai historisnya itu Lo mas yang mahal makanya saya bersikukuh mempertahankan meski terhimpit bangun baru,” jelasnya.
Rumah kuno di kawasan pecinan Kota Blitar memang sudah banyak yang dijual oleh sang pemilik. Sehingga bangunannya kini sudah berganti menjadi deretan toko dan tidak lagi terlihat sebagai kawasan pecinan.
Alasan utama adalah besarnya ongkos perawatan ruko kuno. Selain itu para generasi penerus banyak yang enggan untuk menempati rumah nenek moyangnya.
Hal itulah yang membuat keberadaan pecinan di Kota Blitar mulai memudar. Para pemilik rumah kuno kini memilih menjual dan membelikan bangunan baru yang dianggap layak untuk ditempati. [owi/beq]






