Blitar (beritajatim.com) – Pemilihan Ketua RT 03 RW 02 Lingkungan Ngebrak Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Minggu (21/07/2024) dikemas mirip dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
Meski hanya memiliki jumlah pemilih 142 orang, namun pelaksanaan pemilihan RT ini benar-benar dikemas mirip dengan Pilkada. Ada Tempat Pemungutan Suara (TPS) lengkap dengan kotak suara dan surat suaranya.
Bahkan dalam hal kecil seperti tinta sebagai tanda bukti usai mencoblos juga disediakan oleh pihak panitia. Pemilihan RT dengan konsep Pilkada ini baru pertama kali dilakukan di lingkungan tersebut.
Dan hasilnya warga menjadi lebih antusias untuk datang dalam pemilihan RT. Bukan hanya itu, para calon RT juga sebelumnya telah mensosialisasikan visi misinya kepada warga setempat. Sehingga pemilihan RT ini benar-benar terasa seperti Pilkada.
“Dengan sistem pemilihan RT seperti pemungutan suara di Pemilu dan Pilkada 2024, warga jadi belajar demokrasi. Kegiatan ini juga untuk menjalin kekompakan warga,” kata Titik Wahyuni, warga.
Ketua Panitia Pemilihan Ketua RT 03 RW 02 Lingkungan Ngebrak, Andi Wiyono mengungkapkan dalam pemilihan ketua RT kali ini, panitia mencoba mengubah paradigma yang selama ini berjalan di masyarakat lingkungan Ngebrak.
Selama ini, pemilihan ketua RT 03 RW 02 Lingkungan Ngebrak dilakukan dengan penunjukan langsung oleh ketua RT lama. Namun pada tahun ini warga sepakat untuk mencoba hal baru yakni melakukan pemilihan Ketua RT secara langsung.
“Tahun ini, kami mencoba, selain untuk belajar demokrasi, pemilihan ketua RT kali ini bisa dipertanggungjawabkan semua warga serta warga bisa mendukung program kerja ketua RT kedepan lebih baik dan lebih maju lagi,” ungkap Andi.
Persiapan pemilihan ketua RT dengan sistem Pilkada ini dilakukan selama 1,5 bulan sebelumnya. Awalnya, panitia kegiatan terlebih dahulu melakukan penjaringan para calon ketua RT.
Pada tahap ini panitia membagi tiga wilayah penjaringan calon ketua RT. Pada saat itu setiap wilayah ada koordinator untuk melakukan penjaringan calon ketua RT sekaligus mendata calon pemilih
“Dalam proses penjaringan calon, kami bagi tiga wilayah dan masing-masing wilayah ada koordinator yang tugasnya menjaring calon dan mendata DPT melalui KTP dan KK,” ujarnya.
Untuk menggelar pemilihan Ketua RT dengan sistem Pilkada ini panitia harus bekerja keras. Pasalnya selama ini anggapan di masyarakat, ketua RT memang jabatan biasa, tapi dari segi pekerjaan sebenarnya berat.
“Alhamdulillah, kami bisa mendapatkan enam calon. Sedang jumlah pemilih ada 142 pemilih,” imbuhnya.

Sementara itu, biaya pemilihan ketua RT dengan sistem Pilkada ini diambil dari uang kas RT dan partisipasi masyarakat. Selain itu, juga ada donatur yang menyumbangkan uang untuk pelaksanaan pemilihan ketua RT.
“Pemilihan ketua RT seperti pelaksanaan Pemilu ini baru kali pertama digelar di lingkungan sini. Kami juga menyediakan doorprize untuk menarik partisipasi masyarakat. Alhamdulillah, jumlah warga yang datang untuk memberikan hak pilihnya ada 60 persen dari jumlah DPT,” pungkasnya. (owi/but)






