Ngawi (beritajatim.com) – Sudah genap 20 hari meninggalnya Diah Agustin Lestariningsih (17), mahasiswi asal Desa Semen Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, Jawa Timur yang diduga dibunuh di kamar kosnya di Kota Malang, Jawa Timur. Namun, hingga saat ini pihak Polres Kota Malang belum menangkap pelaku yang membunuh mahasiswi yang baru kuliah lima bulan di Universitas Negeri Malang itu.
Pihak keluarga almarhumah Diah menginginkan agar pelaku yang mengakhiri nyawa Diah segera ditangkap dan segar mendapatkan hukuman berat dan kalau bisa hukuman mati.
Jumini, ibunda Diah setiap hari hanya bisa menangisi kepergian putri bungsunya. Dia kerap teringat Diah saat sore menjelang. Karena, saat sore hari Diah kerap bertanya pada ayah sambungnya apakah membawa jajan atau ayam goreng kesukaannya.
“Ayahnya kan jualan sayur keliling. Saya sedih kalau sore teringat Diah itu selalu tanya ke bapaknya yang pulang jualan. Apakah bawa jajan, bawa ayam goreng ndak? Begitu. Saya sedih kehilangan putri saya,” kata Jumini saat ditemui di rumahnya, Rabu (11/01/2023).
Jumini mengharap agar pelaku segera ditangkap. Bahkan, nantinya mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya. Lantaran, tak hanya mengambil ponsel pintar milik Diah, pelaku juga tega menghabisi nyawa putrinya. “Hanya itu saja yang kami harapkan. Agar polisi segera menangkap pelaku. Saya minta pelaku nanti juga dihukum seberat-beratnya,” kata Jumini.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pembunuhan”]
Tak hanya Jumini, Supatmawati sang bibi juga masih teriris hatinya. Dia lah yang selama ini intens berkomunikasi dengan pihak kampus Universitas Negeri Malang dan pihak penyidik Polres Kota Malang.
Terakhir, polisi mengabarkan jika penyelidikan sudah mengarah ke pelaku. Namun, polisi tak membeberkan siapa pelaku tersebut. Yang jelas dia adalah seorang laki-laki yang tinggal di Malang.
“Polisi mengabari kalau pelaku sudah diketahui identitasnya. Yang jelas dia itu laki-laki dan tinggalnya tak jauh dari Malang. Kami mengharap pelaku segera ditangkap. Dan nantinya bisa dapat hukuman mati seperti apa yang dia perbuat kepada Dek Diah,” kata Watik, sapaan akrab Supatmawati, usai berziarah ke makam keponakannya, Rabu (11/01/2023)
Diah Dikenal Anteng dan Cerdas, Kuliah pun Masuk sebagai Mahasiswa Bidikmisi
Almarhumah Diah dikenal sebagai pribadi yang anteng, tak neko-neko dan pandai di sekolah. Saat masuk jenjang Madrasah Tsanawiyah dia masuk sebagai siswi akselerasi. Jadi, sekolah di MTs hanya dua tahun saja. Kemudian, dia masuk ke SMAN 1 Jogorogo, saat lulus juga dapat nilai sempurna. Pelajaran Matematika dapat nilai 90, begitupun mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi yang dapat nilai diatas 85.
“Mau masuk kuliah juga belajarnya tekun sampai dini hari. Dia masuk lewat jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Kemudian, diterima dan masuk sebagai mahasiswi bidikmisi dan masuk Jurusan S1 Biologi Universitas Negeri Malang. Biaya kuliah ditanggung pemerintah berikut uang sakunya. Kami sekeluarga merasa ringan saat menguliahkan Diah,” kata Jumini.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pembunuhan-malang”]
Jumini mengaku sempat melarang putrinya saat hendak kuliah ke luar kota. Namun, Diah bersikukuh agar berangkat kuliah karena biaya kuliah dan uang saku sudah ditanggung pemerintah. Jarang sekali kesempatan itu didapat orang lain. Diah ingin memanfaatkan kesempatan itu agar bisa dapat pendidikan yang baik.
Diah paham betul keluarganya adalah warga kurang mampu. Sang ibu merupakan buruh tani dan ayah sambungnya berjualan sayur keliling. Kakak laki-lakinya juga kerja serabutan. Saat itu Diah merasa beruntung bisa kuliah dengan bidikmisi dan meminta sang ibunda memberikan izin padanya kuliah di Malang.
“Akhirnya saya memberi izin. Dan dia pun akhirnya berangkat dan ngekos di sana. Selama kuliah di belum pernah pulang. Pas hendak pulang kampung, malah meninggal dunia di kos dan ternyata jadi korban pembunuhan. Kami tidak menyangka, dan kami sangat terpukul,” kata Jumini.
Diketahui, Seorang mahasiswi asal Desa Semen, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, Jawa Timur meninggal dunia di kamar kosnya, di Jalan Sumbersari Gang 5C No. 433 B3 Lowokwaru, Kota Malang, Kamis (22/12/2022) pukul 15.00 WIB. Mahasiswi yang baru 4 bulan kuliah di Universitas Negeri Malang itu meninggal dengan luka tusuk di leher.
Kepala Desa Semen Suyanto membenarkan jika pihak keluarga sudah melaporkan kejanggalan itu pada Polres Kota Malang. Karena, selain adanya luka tusuk di bagian leher, ponsel milik Diah Agustin Lestariningsih (18) itu juga hilang.
Kejadian itu diketahuinya setelah mendapatkan kabar dari Polresta Malang bahwa ada warganya yang meninggal dunia di kos. Yanto langsung mengabari pihak keluarga korban di rumahnya. Jenazah Diah selesai diotopsi dan dipulangkan ke Ngawi pada 23 Desember 2022 lalu dan dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Semen. (fiq/kun)






