Malang (beritajatim.com) – Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia (Wamentan RI), Harvick Hasnul Qolbi mengisi kuliah umum di Universitas Islam Malang (Unisma).
Saat mengisi acara Wamentan berbicara tentang pemberdayaan santri dalam pengolahan sampah untuk meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian.
Tidak hanya itu, Wamentan menghimbau kepada para pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) agar turun berpartisipasi dalam menyiapkan pertanian berkualitas di Indonesia. Pada acara tersebut dilakukan penyerah bantuan kepada 12 Pondok Pesantren.
“Peningkatan pendapatan pesantren langkahnya banyak sekali tadi yang saya sampaikan sesuai arahan bapak presiden juga memberdayakan pesantren. Terutama santri untuk siap pakai, sehingga bisa mengaplikasikan kemampuannya di masyarakat,” ujar Harvick Hasnul Qolbi.
Beberapa pengasuh ponpes yang hadir secara langsung diantaranya dari Raudlatut Thohirin, Ponpes Raudlatul Ulum 4 (Malang), Nurul Amanah (Bangkalan), Ta’limul Qur’an (Pasuruan), Madinatul Ilmi (Pasuruan), Ainul Yaqin Unisma, Al Amin (Kediri) dan An Nur 2 (Bululawang). Mereka mendapat ada yang mendapat 2 Unit Cultivator, benih jagung 10 hektar, dan benih padi 10 hektar.
“Bantuan yang diberikan berupa bibit padi, cultivator, dan kebutuhan lain sesuai zona kebutuhan dari pesantren berkaitan. Kalau cocoknya dengan tanaman hortikultura ya kami berikan tanaman hortikultura , terus kalau perkebunan juga kita sesuaikan, begitu juga dengan peternakan,” ujarnya.
Pesantren, kata Harvick, memiliki potensi besar di sektor pertanian, umat muslim sebagai mayoritas di Indonesia. Tentu di pesantren diharapkan lahir putra putri terbaik bangsa ke depan.
“Kita akan mengusahakan pelatihan, dan kerjasama sesuai yang diharapkan oleh pengasuh ponpes. Tadi ada beberapa pengasuh sudah menyampaikan aspirasinya,” ujarnya saat acara di Gedung Pasca Sarjana Lantai 7 pada Rabu (11/01/2023).
[berita-terkait number=”4″ tag=”unisma-malang”]
Pesantren memiliki kepedulian yang sangat besar pada sektor pertanian. Bahkan kalau tidak besar, akan disimulasikan untuk menjadi besar. “Karena jangan sampai sektor pertanian di Indonesia ini diambil oleh negara lain. Ini yang utama sekali, jadi PR bersama,” tutur Wamentan.
Senada dengan itu, Rektor Unisma, Prof Dr H Maskuri mencanangkan akan ada pengembangan kerja sama dengan pesantren di kota maupun kabupaten Malang. “Saat ini yang mendapat untuk sementara masih ada 12 , 12 ponpes di Kota dan Kabupaten Malang. Setelah ini akan kita kembangkan, kita teruskan,” jelasnya.
Dia memandang langkah Ini juga dalam rangka mengembangkan entrepreneur ponpes. Agar tidak lagi ada bahwa alumni pesantren hanya paham kitab kuning. Namun, ke depan ponpes juga akan ikut berpartisipasi dan mengambil bagian dalam rangka pemberdayaan ekonomi.
“Basis pesantren banyak di daerah pedesaan. Maka pondok pesantren di daerah pedesaan itu diharapkan menjadi pilot project dalam melakukan pendampingan terhadap masyarakat,” jelas Rektor Unisma tersebut. (dan/ted)






