Mojokerto (beritajatim.com) – Salah satu jajanan pasar yang dicintai di tengah persaingan kuliner kekinian adalah sawut atau pasrah. Sawut merupakan jajanan asli Yogyakarta. Namun hingga kini jajanan tersebut masih bisa ditemui di Kota Mojokerto.
Sawut memiliki tekstur yang berantakan atau semrawut. Namun dari segi cita rasa tidak bisa disangkal kelezatannya. Sawut terbuat dari singkong parut yang dikukus bersama gula merah dan disajikan dengan diberi taburan parutan kelapa muda.
Mengutip dari Wikipedia, nama sawut sendiri berasal dari bahasa Jawa, semrawut yang bermakna ‘berantakan’. Sawut dikenal pula dengan nama pasrah karena pembuatannya diparut kasar. Jajanan pasar ini mengenyangkan karena terbuat dari singkong.
Salah satu penjual sawut di Kota Mojokerto adalah Kambali (45). Sejak di PHK (pemutusan hubungan kerja) dari tempat kerjanya di Surabaya tahun 2006, ia kemudian beralih kerja dengan berjualan jajanan pasar. Meski sebelumnya, yang ia jual adalah klanting, pleret dan perdulo.
[berita-terkait number=”4″ tag=”jajan-pasar”]
“Dulu klanting, pleret dan perdulo tapi tangan capek jadi ganti ke sawut. Kalau ini kan, dari singkong yang dipasrah (diparut) dikasih gula Jawa jadi bikinnya tidak terlalu capek,” ungkap warga Sinoman, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, Sabtu (7/1/2023).
Masih kata Kambali, di hari biasanya ia mampu menghabiskan 12 kg singkong sebagai bahan dasar sawut. Namun saat hari Minggu atau tanggal merah, ia mengaku penjualannya meningkat antara 15 kg sampai 20 kg singkong. Ia mengaku tidak kesulitan untuk mencari bahan dasarnya.
“Untuk singkongnya beli di pasar, kadang ya pernah kehabisan. Tapi pernah juga kehabisan singkong di pasar sampai tidak bisa berjualan, karena singkong ini tidak bisa di simpan dengan waktu yang cukup lama. Karena akan hitam dan busuk sehingga tidak bisa digunakan,” katanya.

Kambali menjelaskan, jika setelah jualannya habis, ia akan langsung ke pasar untuk belanja untuk dijual di hari berikutnya. Sementara istrinya akan memasaknya singkong yang sudah dibeli tersebut untuk dijual keesokan harinya.
“Harganya Rp3 ribu per bungkus. Saya juga jualan koci-koci, sama dengan sawut cuma cara buatnya diparut. Harganya Rp3 ribu per bungkus, lemet Rp2 ribu, rujak gobet Rp5 ribu, serta klanting sunduk seribu rupiah” ujarnya.
Dalam sehari, Kambali mendapatkan keuntungan bersih rata-rata Rp100 ribu. Ia menjual jajan pasar tersebut menggunakan gerobak dan membukanya di pinggir Jalan Majapahit Selatan mulai jam 06.00 WIB sampai 11.30 WIB. [tin/suf]






