Bondowoso (beritajatim.com) – Bondowoso telah menasbihkan diri sebagai Bondowoso Republik Kopi (BRK) sejak 22 Mei 2016 saat di bawah kepemimpinan Bupati Amin Said Husni.
BRK sebenarnya berangkat dari menggeliatnya pasar kopi global yang kemudian ditangkap sebagai peluang bagi kopi Bondowoso sekaligus untuk lebih menyejahterakan masyarakat.
Bondowoso memiliki dua pruduk kopi terbaik yakni jenis Arabika dan Robusta. Kopi-kopi tersebut mayoritas ditanam di Gunung Ijen, Gunung Raung, dan Gunung Argopuro.
Kemenkum HAM di tahun 2013 telah menerbitkan sertifikat indikasi geografis (IG) dengan nama “Klaster Kopi Java Ijen Raung”. Dan pada tahun 2020 lalu, kawasan lereng Argopuro juga mengantongi IG dengan “Klaster Arabica Hyang Argopuro”.
Indikasi geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang atau produk. Faktor yang menentukan yakni lingkungan geografis, alam, dan manusia atau kombinasi dari faktor-faktor itu. Sehingga tersemat reputasi, kualitas, dan karakteristik produk yang dihasilkan.
Dari ribuan hektar luasan lahan kopi milik PTPN XII yang dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sudah termasuk dalam IG itu. Salah satunya yabf berada di Kecamatan Sumber Wringin.
Kopi-kopi di wilayah Sumber Wringin memiliki cita rasa luar biasa. Bahkan, pada Festival Kopi Nusantara 2022 di Bondowoso berhasil memboyong sejumlah penghargaan.
Dalam lomba cita rasa kopi untuk kategori Arabika, dari juara I, II, III, dan harapan I, dan II, semua diborong oleh perwakilan Kecamatan Sumber Wringin.
Yakni secara berurutan, Desa Sukorejo, Kampung Kopi Kluncing, Kampung Kopi Kluncing, Desa Rejo Agung, dan Desa Rejo Agung.
Shaleh, petani kopi asal Desa Rejo Agung mengatakan, alam Bondowoso memang patut disyukuri. Karena alamnya yang bagus sehingga menghasilkan cita rasa kopi yang luar biasa.
Jika ditanya rasa kopi khas Bondowoso, katanya ada rasa-rasa yang berbeda dari setiap jenis kopi hasil Bumi Ki Ronggo ini.
Sebut saja kopi Arabika dengan jenis yang paling banyak dicari saat ini, yakni, Yellow Catura, Blue Mountain, Orange Bornburn, ketiganya memiliki khas rasa yang tak sama.
Namun, Shaleh memastikan bahwa kopi asal Kecamatan Sumber Wringin itu, sebut saja tiga jenis kopi tadi, semakin dingin akan terasa semakin nikmat.
“Kopi Bondowoso, khususnya Sumber Wringin itu semakin dingin semakin nikmat. Kalau arabikanya lima menit diminum, lima menit lagi diminum, lima menit lagi diminum makin dingin makin nikmat,” tuturnya.
Namun, memang diakuinya bahwa saat ini tiap kali ekspor melalui pihak ketiga pihaknya mengirim kopi multi varietas. Yang memiliki rasa kopi yang juga berbeda sehingga saling melengkapi.
“Kalau multi varietas itu dirasa saling nutupi. Yang ini coklatnya muncul, ini kecutnya naikan, ada yang tinggi,” tutur pria yang juga Ketua LMDH wilayah tersebut.
Tak hanya itu, dari jenis kopi arabika pihaknya juga menyuguhkan kopi luwak Arabika. Namun memang jenis ini juga memiliki ragam pilihan.
Mulai dari kopi luwak liar, kopi luwak peliharaan, dan kopi luwak hasil fermentasi buatan. Ketiganya punya rasa yang berbeda.
“Ada juga kopi luwak yang difermentasi buatan, tapi rasanya berbeda. Cuma jika bukan penikmat kopi, sulit untuk tahu perbedaan rasanya,” katanya.
Arabika itu Ibarat Istri
Disebutkan oleh Shaleh bahwa memang kopi Bondowoso yang paling banyak dicari adalah jenis Arabika.
Tak heran, harganya jadi menggiurkan. Saat ini harga kopi jenis Arabika chery dibandrol Rp 16 ribu per kilogram. Harga ini meningkat tajam dibanding tahun lalu yang hanya Rp 10 ribu per kilogram.
Kemudian, untuk arabika green been full wash dihargai sekitar Rp 120 ribu per kilogram.
Harga yang mahal, rasa yang juga luar biasa tentu diikuti dengan pemeliharaan yang tak gampang. Makanya di kalangan para petani, kopi Arabika kerap kali diibaratkan sebagai istri yang perlu kasih sayang.
Saleh menyebutkan perawatan yang dilakukan mulai dari pupuk. Dirinya menggunakan pupuk organik yang perlu dirolak setiap satu tahun sekali.
Dirolak yakni menggali tanah di sekitar kopi yang di atasnya telah bertebaran daun dan ranting dimasukkan dan, ditutup kembali dengan tanah lagi hingga menjadi pupuk kompos.
Selain itu, proses petik merah yang juga dilakukan dengan teknik yang berbeda. Belum lagi, pemangkasan terhadap ranting yang dianggap kurang produktif karena hanya akan memakan unsur hara lebih banyak.
“Nanti ini kalau tak dipangkas maka perkembangan pohon kopinya tak bagus,” katanya.
Naungan di sekitar pohon kopi juga menjadi perhatian.
Dirinya bertani kopi dengan luasan lahan sekitar 5 Ha, dengan jumlah tanaman sekitar 1.250 pohon kopi.
“Kalau ini kita tanam di ketinggian 1.100 mdpl,” pungkasnya.
Tak heran, jika banyak orang menyebut di secangkir kopi penuh dengan dedikasi, cinta, dan makna. [och/beq]







