Surabaya (beritajatim.com) – Meminta maaf kepada seseorang adalah hal yang wajar apabila kita berbuat kesalahan. Namun, jika seseorang terus meminta maaf padahal tidak salah, bisa jadi ia mengidap ‘sorry syndrome’ atau sindrom minta maaf.
Melansir Healthline, psikolog mengajak kita untuk mengetahui kemungkinan mengidap ‘sorry syndrome’.
Dimulai dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
– Bagaimana pola penggunaan permintaan maaf Anda?
– Pernahkan memperhatikan diri sendiri meminta maaf di hampir setiap situasi meskipun sebenarnya tidak perlu?
– Apakah Anda juga mengatakan maaf meskipun tidak melakukan kesalahan?
– Apakah Anda bertanggung jawab atas kesalahan orang lain atau atas masalah yang tidak Anda sebabkan atau kendalikan?
Mengatakan Maaf, terutama saat tidak bersalah, bisa jadi hal itu merupakan reaksi bawah sadar. Tentu saja terkadang kita perlu meminta maaf, namun jika kita merasa harus meminta maaf sepanjang waktu, hal itu bisa menandakan kepercayaan diri yang kurang.
‘Sorry Syndrome” dan Permintaan Maaf yang Berlebihan
Meminta maaf adalah ungkapan penyesalan dan pengakuan atas kesalahan kita karena telah menyakiti orang lain. Tetapi meminta maaf secara berlebihan justru menjadikan kita secara tidak sadar mengurangi harga diri.
Permintaan maaf yang berlebihan biasanya merupakan perilaku yang dipelajari sejak masa kanak-kanak. Untuk menghindari konflik, hukuman atau penolakan, kita mengakomodasi orang lain dan menekan perasaan kita dengan meminta maaf.
Ketika kita meminta maaf secara berlebihan, hal itu juga bisa menjadi bumerang. Inilah kerugian yang mungkin ditimbulkan jika kita minta maaf secara berlebihan:
1. Membuat orang lain lelah dan bahkan mengganggu sebagian orang.
2. Orang-orang menjadi kehilangan rasa hormat dan mungkin memperlakukan kita dengan buruk.
3. Terlalu sering minta maaf dapat mengurangi efektivitas dan orang lain mungkin tidak menganggap permintaan maaf kita tulus.
4. Menunjukkan kemunafikan tertentu karena mungkin kita mengatakan dan melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dimaksudkan.
5. Meminta maaf berlebihan dapat menurunkan harga diri sendiri.
Daripada terus merasa rendah diri dan meminta maaf, ganti itu dengan rasa terima kasih.
Jadi, alih-alih mengatakan ‘maaf’ saat benar-benar tidak perlu, ulangi kata ini menjadi sesuatu yang positif seperti ‘terima kasih’.
Contohnya, jika terlambat menghadiri rapat, kita dapat mengatakan, ‘Terima kasih telah menunggu saya’.
Cara lain untuk berhenti meminta maaf secara sia-sia adalah dengan memvalidasi perasaan orang lain. Tunjukkan bahwa kita peduli dan biarkan orang berbicara tentang perasaan mereka.
Ini akan membuat mereka merasa lebih baik dan meningkatkan hubungan dengan mereka. Kuncinya di sini adalah beralih dari rasa bersalah ke menghargai dan rasa syukur. (Kai/ian)






