Malang (beritajatim.com) – Cholifatul Nur, warga Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, diminta keterangan penyidik Satreskrim Polres Malang, Rabu (7/12/2022).
Status Cholifatul adalah saksi atas laporan Devi Athok, terkait dugaan pembunuhan dan pembunuhan berencana dalam Tragedi Kanjuruhan.
Ifa sapaan akrab Cholifatul Nur, merupakan ibu dari Jofan Farelino (15). Pelajar kelas 1 SMA Negeri di Bululawang ini, salah satu korban dari 135 korban yang meninggal dunia dalam Tragedi Kanjuruhan.
“Saya diperiksa dengan 22 pertanyaan. Apa yang saya sampaikan fokus pada gas air mata. Karena inti dan pokok permasalahan karena gas air mata itu,” ungkap Cholifatul Nur.
Ifa mengaku, dirinya melihat dan menyaksikan langsung Tragedi Kanjuruhan, pada Sabtu 1 Oktober 2022. Ifa memang tidak menonton pertandingan Arema FC versus Persebaya Surabaya.
Tetapi dia ada di lokasi kejadian setelah mendapat kabar anak semata wayangnya menjadi korban. Ifa berangkat dari rumahnya dengan memakai baju piama menuju Stadion Kanjuruhan.
Tujuannya saat itu hanya mencari anaknya. Dia berlari dari simpang empat Zipur Kepanjen menuju stadion. Karena akses jalan utama tidak bisa dilewati, ia harus melewati selokan untuk sampai stadion.
“Saya mendapat kabar dari temannya kalau anak saya pingsan. Saya langsung menuju stadion dan fokus mencari anak. Saat masuk halaman stadion, asap gas air mata di mana-mana. Juga masih ada tembakan gas air mata dari aparat,” terangnya.
Meski sempat dilarang oleh aparat yang berjaga, namun saat itu Ifa tetap menerobos. Hingga akhirnya dia menemukan anaknya terbaring di ruang VIP.
Kondisinya sudah tidak bernyawa. Kulit wajah, tangan dan kaki, termasuk kuku sudah menghitam. Mulutnya juga mengeluarkan busa yang sudah mengering dan dari telinganya mengeluarkan darah.
“Anak saya ini, berangkat mau nonton sepakbola cakep dan sempat pamit. Tetapi pulang sudah tidak bernyawa dengan kondisi kulit menghitam,” tegasnya.

Ifa menambahkan, bahwa anaknya meninggal dunia bukan karena terinjak-injak. Tetapi karena gas air mata. Sebab sebelum meninggal merasakan sesak mendalam.
“Sebelum meninggal anak saya itu sesak dan pingsan karena gas air mata. Memang sempat terinjak, tapi ketika pingsan. Dan saat dimandikan kedua mata anak saya merah,” tuturnya.
Ifa berharap keadilan atas kejadian ini. Berharap supaya kasusnya diusut tuntas. “Tidak hanya yang menembak saja, tetapi semua yang terlibat harus diusut dan mempertanggungjawabkan,” pungkasnya. (yog/ted)






