Malang (beritajatim.com) – Ikatan Mahasiswa Alumni Nurul Jadid (IMAN) Malang Raya mengadakan Sambut Maba (Samba) 2022 dan Temu Alumni. Acara tersebut berlangsung di Hall Oesman Mansyur Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Minggu (27/11/2022) siang.
Hadir dalam Samba 2022 Kiai Imdad Rabbani, yang mewakili Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Zuhri Zaini. Ra Amak, sapaannya, menyampaikan tausiah pada mahasiswa baru di perguruan tinggi Malang Raya.
Beliau menjelaskan jika alumni Nurul Jadid yang melanjutkan studi di instansi luar pesantren, secara hakikat tetap santri sehingga harus terus merawat nilai-nilai kesantrian. “Santri itu identitas abadi. Meski secara administrasi kita sudah selesai (boyongan) tapi secara substansi kita tetap santri,” jelas Ra Amak.
Ra Amak lalu membeberkan dua masalah yang dihadapi oleh manusia saat. Pertama, persoalan tentang keserbananggungan. Keserbananggungan ini saat seseorang melakukan sesuatu secara setengah-setengah.
“Itu terjadi ketika kita belajar, namun tidak serius. Jangan sampai masalah ini terjadi kepada kita. Ketika kita jadi mahasiswa harus serius belajar. Dalam bidang apapun belajar, jangan setengah-setengah. Implementasikan untuk serius belajar,” kata Ra Amak.
Beliau lalu mengutip pesan dari penyair Arab bahwa Ilmu itu tidak akan memberikan sebagian dirinya, sampai seseorang totalitas mencarinya. Menurutnya, manusia harus terus belajar sepanjang hayat.
“Kita tahu bersama hadistnya. Selama masih hidup maka selama itu pula adalah pelajar yang selalu harus membuka pikiran membuka hari untuk belajar dari siapapun dan apapun ilmu itu datang kepada kita,” ungkapnya.
Problem kedua adalah awam dalam hal agama. Di Nurul Jadid, Ra Amak mencontohkan bahwa ada penekanan khusus pada furudhul ainiyah. Hal yang harus dipahami furudhul ainiyah bukan hanya soal wudhu, sholat, zakat, puasa, dan lain-lain, namun seperangkat pengetahuan yang penting untuk menunjang hal kewajiban.
“Kenapa penting? karena ini merupakan batas minimal seseorang bisa disebut sebagai santri. Jika sudah tahu wudhu dan hal-hal dasar, kemudian memilih kuliah di kedokteran, maka belajar ilmu kedokteran yang awalnya fardu kifayah, bagi kita yang kuliah di kedokteran adalah fardu ain. Bayangkan kalau mereka tidak serius belajar maka akan banyak malpraktek tentang kedokteran ke depan. Keilmuan yang lain juga sama. Karena konsep ilmu fardhu ain ini dinamis,” bebernya.
Pada akhir kesempatan, ia mengusulkan agar IMAN Malang Raya turut ambil bagian dalam penguatan furudhul ainiyah kepada alumni. Kegiatan penyegaran tentang furudhul ainiyah ini dapat dilaksanakan untuk konteks internal bahkan untuk umum.
Pesan Ra Amak kepada alumni Nurul Jadid di Malang Raya agar tidak terlena akan nikmat Allah yang sudah memberi kesempatan belajar atau kuliah. “Jangan dianggap remeh. Saat kegiatan apapun dan sesederhana apapun, ikuti secara serius,” tutupnya. (dan/kun)






