Magetan (beritajatim.com) – Berawal saat bunga kamboja menjadi ikon branding sekolah, SMP Negeri 2 Maospati berhasil membuat teh dan hand sanitizer berbahan bunga kamboja. Sekolah yang terletak di Kelurahan Kraton, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan itu mengolah kelopak bunga kamboja untuk dijadikan sebagai teh dan hand sanitizer.
Kepala SMPN 2 Maospati Anik Rofaida Lestari menuturkan jika ide itu berawal ketika sekolah diwajibkan oleh Pemkab Magetan untuk memiliki ikon branding. Ikon branding sekolah itu haruslah sesuatu yang lekat dengan sekolah. Saat itu dia tak melihat sesuatu yang lain selain tumbuhan bunga kamboja yang hidup subur di sekitar SMPN 2 Maospati.
“Saat pertama kali dipindahkan ke sini sebagai kepala sekolah, Pemkab Magetan itu mewajibkan seluruh sekolah negeri memiliki ikon sekolah yang dijadikan untuk branding. Saat itu saya melihat tanaman kamboja yang tumbuh subur tepatnya di lapangan depan sekolah. Jadi, sejak saat itu saya memutuskan jika bunga kamboja yang dijadikan ikon,” kata Anik pada beritajatim.com, Kamis (24/11/2022).
[berita-terkait number=”3″ tag=”hand-sanitizer”]
Sejak saat itu, dia mulai memikirkan inovasi untuk mengolah bunga kamboja yang bunganya melimpah. Setelah beberapa saat googling, dia tahu jika ekstrak bunga kamboja mengandung minyak atsiri yang kaya antioksidan. Bahan itu juga bisa digunakan sebagai hand sanitizer yang saat itu amat dibutuhkan kala pandemi masih berdampak berat bagi masyarakat.
“Saat itu akhirnya kami bekerjasama dengan Universitas PGRI Madiun (Unipma) yakni dengan Fakultas Teknik Kimia. Anak-anak juga kami ajak ke sana agar dapat teori dan praktiknya. Di sana, kami bawa 2 kilogram bunga kamboja dan setelah di-destilasi jadi 20 cc atau 20 mililiter. Tapi itu kan bibit ya. Kemudian, agar jadi hand sanitizer kami campurkan alkohol 80 persen,” lanjut Anik.
Tak sampai di situ, Anik juga mengembangkan inovasi lain dengan membuat teh dari kelopak bunga kamboja. Awalnya, dia menemukan cara dengan menyangrai menggunakan gerabah tanah liat. Cara itu dianggap tak higienis sehingga dia memilih menggunakan oven untuk memanggang kelopak bunga kamboja.
“Akhirnya kami oven ya. Awalnya, sempat gosong karena suhu terlalu tinggi, percobaan kedua kelopak belum kering sempurna. Ketiga baru ketemu suhu yang pas yakni 150 derajat celcius dengan waktu pemanggangan 40 menit. Namun, itu juga masih belum berhasil karena perlu penataan pada kelopak bunga agar bisa kering merata,” kata Anik.
Dari situ, kemudian pihaknya terus membuat teh dari kelopak bunga kamboja. Berikut, dua produk hasil olahan bunga kamboja itu dijadikan souvenir bagi tamu dinas. Pihaknya sengaja tak memperjualbelikan karena perlu rentetan yang panjang untuk menjualnya ke masyarakat luas.
“Perlu ada BPOM-nya dulu, sehingga sementara masih dipakai sendiri oleh warga sekolah atau diberikan pada tamu dinas saja. Yang masih berlanjut produksi ini teh, kalau hand sanitizer memang masih ada namun kami belum lanjutkan produksi karena belum punya alat destilasi sendiri, sehingga masih numpang di Unipma,” katanya.
Dia mengharap dari dua inovasi itu, siswa-siswinya bisa mengadopsi ilmu. Baik menggunakan bahan yang berbeda atau bahan yang sama sekalipun. Yang jelas, ilmu itu bisa dijadikan bekal bagi siswa-siswi untuk bisa berwirausaha ke depannya. [fiq/suf]







