Probolinggo (beritajatim.com) – Ditengarai akan mengganggu jalannya KTT G20 di Bali, 16 November 2022 mendatang, organisasi lingkungan global, Greenpeace dihadang sejumlah masyarakat di Kota Probolinggo, Senin (7/11) petang.
Greenpeace yang sedang menghelat perjalanan kesaksian dampak krisis iklim dan energi yang mengancam di berbagai daerah dengan bersepeda itu dipaksa putar balik ke Jakarta, dan tidak diperkenankan melanjutkan perjalanan ke Pulau Dewata Bali.
Catatan beritajatim.com kelompok masyarakat yang menghadang laju Greenpeace, juga didukung dua lembaga swadaya masyarakat. Yakni LSM dan Tapal Kuda Nusantara (TKN).
“Kami tidak ingin Greenpeace mengacaukan KTT G20. Kalau mereka mengangkat isu lingkungan silahkan dalam bentuk lain. Kami menengarai Greenpeace sengaja bertindak untuk kepentingan luar negeri, ” ujar Eko Prasetyo,juga ketua Umum TKN.
“Makanya kami minta dan paksa mereka putar balik. Jangan melanjutkan perjalanan atau kampanye ke Bali sampai KTT G20 selsai digelar, ” sambung Eko.
Menanggapi penghadangan, salah satu aktivis Greenpeace, Zamzam, menyatakan siap putar balik. Mereka berjanji tidak melanjutkan perjalanan ke Bali.
“Kami hanya mengkampanyekan isu lingkungan. Dampak lingkungan luar biasa. Seperti di Gresik misalnya, dampak lingkungan bisa menghabisi ikan bandeng, ikan konsumsi kita, ” katanya.
Greenpeace, menghelat perjalanan kesaksian dampak krisis iklim dan energi yang mengancam di berbagai daerah dengan bersepeda. Bertajuk Chasing the Shadow, selama sebulan rencananya menyinggahi beberapa kota besar di Jawa hingga Bali.
“Kami ingin KTT G20 di Bali benar-benar menerapkan transisi energi,” sambung Zamzam.
Perjalanan bersepeda itu telah dimulai dari Jakarta dan kini tiba di Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ktt-g20-bali”]
Menurut Greenpeace, dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, sektor energi akan menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia pada 2030.
Untuk itu, diperlukan aksi iklim yang nyata dan ambisius terutama pada sektor energi untuk mengurangi dampak krisis iklim. Sementara Indonesia sejauh ini masih belum bisa lepas dari pemakaian batubara yang juga menghasilkan polusi udara sebagai tenaga pembangkit listrik.
Nazwa Agus, Humas DPP TKN, menyatakan, PLN malalui PLTU berusaha kurangi emisi karbon, dengan cara program co-firing yaitu program pencampuran bahan batubara dengan energi baru terbarukan bentuk serbuk kayu.
“Disitu 6% emisi berhasil dikurangi oleh PLN. Makanya jangan fitnah pemerintah Indonesia. Sementara kebutuhan batubara dunia terus meningkat. Terutama permintaan dari Jerman, ” ujar pria karib disapa Ami, itu. (eko/ted)






