Jember (beritajatim.com) – Aksi tipu-tipu dengan mencatut nama M. Satib, legislator DPRD Jawa Timur dari Partai Gerindra, memakan korban. Dua warga Kabupaten Jember kehilangan uang ratusan juta rupiah akibat kena kibul.
Salah satu korban, Kodrat Riyanto dan istrinya, mengadukan penipuan ini di rumah Satib, Jalan Teuku Umar, Jember, Jumat (4/11/2022) siang. “Saya kena tipu Rp 75 juta,” kata Kodrat.
Peristiwa nahas itu dialami Kodrat pada Minggu (30/10/2022) malam. Ada seorang pria yang mengaku bernama Satib menghubunginya via telepon WhatsApp. “Suaranya berat, serak-serak basah,” kata Kodrat.
Kodrat hanya pernah dua kali bertemu langsung dengan Satib. Selama ini, sang legislator membantu menyalurkan dana pembangunan plengsengan di belakang sekolah milik Yayasan Raudlatul Akbar yang dikelola Kodrat.
Tak curiga jika sang penelepon adalah Satib palsu, Kodrat pun meresponsnya dengan rasa senang. Apalagi waktu itu Satib mengatakan akan memberikan sumbangan untuk pembangunan masjid yayasan. Sebagai yayasan pendidikan, Raudlatul Akbar mengelola sekolah setingkat taman kanak-kanak, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, dan sekolah menengah kejuruan. Total siswanya mencapai 300 orang.
Sebelum Satib palsu ini menelepon, Kodrat menyetujui permintaan perkawanan via Facebook dengan akun bernama Aba Satib. “Saya waktu itu tak banyak berpikir. Daya kritis saya tidak muncul. Saya kemudian mengonfirmasi permintaan pertemanan itu,” katanya.
Sang pemilik akun Aba Satib ini kemudian mengajak ngobrol Kodrat melalui Facebook Messenger. “Dia menyampaikan pesan bahwa akan membantu pembangunan masjid. Dia mengatakan, ada sedekah dari keluarga dan kolega sesama anggota Dewan,” kata Kodrat.
[berita-terkait number=”3″ tag=”penipuan”]
Kodrat kemudian memberikan nomor WhatsApp-nya, dan aksi penipuan pun berlangsung. Dia diminta mengirimkan nomor rekening BNI milik yayasan kepada Satib palsu. Tak lama kemudian, Satib palsu mengirimkan foto bukti transfer uang Rp 15 juta ke rekening tersebut kepada Kodrat dan meneleponnya. “Saya seperti tergiring,” kata Kodrat.
Satib palsu ini mengatakan punya yayasan di Pasuruan yang dipimpin oleh AW. Dia meminta Kodrat menelepon AW, karena berkali-kali tidak bisa dihubungi. Kodrat dimintanya mentransfer Rp 5 juta dari uang Rp 15 juta yang sudah ditansfernya tersebut kepada yayasan di Pasuruan itu.
Berhasil menghubungi AW dan mendapat nomor rekening yang dituju, Kodrat pun melaksanakan perintah Satib palsu. Rekening Yayasan Raudlatul Akbar tidak memiliki kartu ATM maupun mobile banking. Maka Kodrat pun mentransferkan Rp 5 juta menggunakan rekening pribadi. Bukti transfer itu kemudian dikirimkan ke Satib palsu via WhatsApp.
Berikutnya Satib palsu kembali mengirimkan foto bukti transfer sejumlah orang yang disebutnya koleganya ke rekening Raudlatul Akbar dengan nominal beragam. Setiap foto bukti transfer selalu diikuti perintah agar mengirim sebagian kecil uang ke rekening yayasan di Pasuruan tersebut.
Kodrat pun patuh. Setelah lima kali transfer dari rekening pribadinya, tabungan Kodrat terkuras. Ia kemudian mengirimkan uang dari rekening pribadi istrinya. Semua bukti transfer dikirimkan Kodrat kepada Satib palsu. Setidaknya sepuluh kali dia mengirim uang ke rekening Yayasan di Pasuruan dengan total nominal Rp 75 juta. “Terakhir saya kirim Rp 1 juta. Uang saya sudah habis,” katanya.
“Saya tidak kritis sama sekali. Saya sempat minta (kepada Satib palsu) agar mentransfer uang ke rekening pribadi saya, karena ada mobile bankingnya sehingga bisa dicek dengan mudah. Dia tidak mau. Alasannya sedekah itu harus diberikan untuk yayasan, bukan pribadi,” kata Kodrat.
Kodrat pun percaya. “Ini Pak Satib sungguhan,” pikirnya waktu itu.
Belakangan, setelah mentransferkan uang untuk terakhir kali, Kodrat merasa tidak enak hati. Ia gemetar. Semalaman tak bisa tidur. Bingung. “Kenapa ini?” pikirnya.
Senin (31/10/2022) pagi, Kodrat menuju BNI untuk mencetak buku rekening Yayasan Raudlatul Akbar. ‘Begitu dilihat, tidak ada saldo sama sekali,” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”dprd-jatim”]
Kodrat pun menyadari sudah jadi korban penipuan. Ia pun menunjukkan foto bukti transfer yang dikirimkan Satib palsu kepada petugas bank. “Petugas bank bilang: ‘Pak, mohon maaf. Nomor rekeningnya salah’. Salah satu nomor rekening yayasan saya 075. Tapi nomor rekening yayasan saya di bukti transferan itu 076,” katanya.
Kodrat pun pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Ia kemudian melaporkan penipuan itu ke polisi. “Ternyata di Polres Jember ada laporan yang sama,” katanya. Warga Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan bernama Soponjono juga tertipu dengan modus yang sama. Uang Rp 56 juta miliknya lenyap dibawa kabur penipu yang mencatut nama Satib tersebut.
Kodrat mencoba menelepon nomor ponsel Satib palsu. Tak bisa. Rupanya nomor ponsel Kodrat diblokir.
Kena catut, Satib mengutuk penipuan tersebut. Dia baru pulang dari umrah pada 1 November dan mendapat laporan tersebut. “Sebelumnya saya dapat pesan WhatsApp dari Pak Soponjono yang bilang sudah mentransfer sejumlah uang,” katanya.
Sebagaimana Kodrat, Soponjono dihubungi Satib palsu yang berkenalan dengannya via akun Facebook Aba Satib. Satib pun kaget karena akun Facebooknya dikloning. “Hati-hati kalau transfer, sekarang banyak penipuan,” kata Satib kepada Soponjono.
Dua korban penipuan tersebut sama-sama ketua kelompok masyarakat yang melaksanakan pembangunan infrastruktur dengan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Jawa Timur yang diperjuangkan Satib. “Alangkah baiknya ke depan kalau ada orang yang mengatasnamakan saya, tolong konfirmasi kepada saya. Saya percaya polisi bisa menindaklanjuti laporan warga ini,” kata Satib. [wir/suf]






